Pesantren Fathul Huda Gelar MTQ Ke-17

Pondok Pessantren Fathul Huda Purwokerto menggelar Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat pelajar SMA sederajat. Acara ini mendapatkan antusias dari sekolah-sekolah SMA sederajat yang ada di Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Cilacap dan Banjarnegara. 

Setiap tahunnya pada kegiatan tersebut, tak kurang dari 50 sekolah selalu mengirimkan siswanya secara rutin untuk mengikuti kegiatan tersebut. Acara yang digelar mulai tanggal 18-20 Juli 2014 ini menjadi acara MTQ yang ke-17 bagi Pesantren Fathul Huda.

“Ini merupakan acara rutin yang diadakan oleh Pondok Pesantren kami. Memang dulu sempat vakum namun hanya beberapa tahun saja. Untuk tahun 2014 sekarang ini merupakan MTQ yang ke-17 sejak diadakan pertama kali pada tahun 1994,” tutur Windra, Ketua Panitia MTQ.

Sementara Pengasuh Pondok Pesantren Fathul Huda K.H. Rachmat Burhani, dalam sambutannya bersykur melalui kegiatan tersebut, setiap tahun selalu lahir qori-qoriah tingkat SMA yang memiliki kualitas bagus. Sehingga kegiatan tersebut selalu rutin diadakan setiap tahun. “Selain menjadi ajang pencarian bakat qori-qoriah, MTQ juga sebagai media untuk berdakwah melalui seni Tilawatil Qur’an,” ungkapnya. 

Pada MTQ ke-17 tingkat pelajar SMA sederajat se-eks Karesidenan Banyumas ini, panitia mengambil tema “Meneguhkan Akhlaqul Karimah Generasi Muda Islam dengan Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an.” Tema ini merupakan refleksi atas kondisi generasi muda Indonesia yang tidak sesemangat generasi pendahulunya dalam mempelajari al Qur’an.

Sebelum ajang MTQ dimulai, seluruh peserta wajib mengikuti Training Center selama 2 hari, yaitu tanggal 18-19 Juli 2014. Tahun ini, yang menjadi trainernya adalah Ustadzah Mariani dari Banyumas. Dilanjutkan dengan seleksi awal pada tanggal 19 Juli siang.. 
“Memang sudah dua tahun ini, kami menggunakan sistem seleksi untuk menentukan peserta yang menuju final. Ya semacam audisi.” Lanjut Windra.

Acara yang digelar di Aula Pon-Pes Fathul Huda ini diikuti oleh sekitar 53 peserta. Memang secara kuantitas, peserta yang ikut menurun dari tahun 2013 sebanyak 74 peserta. Hal ini disebabkan karena seleksi yang semakin ketat, sehingga tidak semua peserta tidak bisa ikut dalam kompetisi ini. 

“Kami senang karena bisa belajar variasi-variasi baru dan itu sangat membantu kami untuk mengembangkan seni tilawatil Qur’an. Ini bukan sekadar kompetisi, tapi juga banyak unsur pembelajarannya,” jelas Muhammad Ibnu Luthfi, salah satu peserta MTQ Putra yang merupakan delegasi SMK Wiworotomo Purwokerto.

Dari seluruh jumlah peserta yang ikut seleksi pada hari ini, akan dipilih 15 qori dan 15 qoriah yang akan masuk babak final untuk memperebutkan juara I, II, dan III yang dilaksanakan esok tanggal 20 Juli 2014. (Slamet dan Fuad Hasyim/Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online. 

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: