PESANTREN, SUFISME DAN TANTANGAN MODERNITAS (Bagian IV)

Moh. Khasan*

 

Keterkaitan yang sangat erat antara pesantren dan sufisme, selain disebabkan oleh faktor historis juga faktor persamaan secara sosiologis. Secara historis perkembangan tasawuf dipengaruhi oleh kemunduran kegiatan intelektual Islam pada abad ke-12 dan ke-13. Ketika itu kaum Muslim mengalami kemunduran, baik dibidang ekonomi, politik, militer maupun bidang-bidang lainnya. Sejalan dengan stagnasi ini, gerakan-gerakan sufi men-daparkan momentum strategisnya, yaitu sebagai pemelihara jiwa keagamaan di kalangan kaum Muslim. Bahkan menurut Nurcholish Madjid, mereka pulalah yang menjadi perantara bagi tersebarnya agama Islam ke luar dari Timur Tengah, terutama ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan pedalaman Afrika. Para pedagang, pengembara dan pengamal tasawuf merupakan juru tabligh utama penyebaran agama Islam ke daerah-daerah tersebut, selanjutnya baru diteruskan oleh ulama-ulama ahli fiqh dan ahli kalam.[25]

1Data yang lain menyebutkan bahwa berdasarkan penelitian beberapa ahli bahwa Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para da’i atau misionaris Islam atau sufi melalui wilayah Bengal India.[26] Oleh karena itu corak Islam Indonesia masa awal adalah sufistik dan mistik. Hal ini juga diperkuat oleh Abdurrahman Wahid, yang menyatakan bahwa karena karakteristiknya itulah Islam dapat diterima di Indonesia dengan mudah.[27] Namun demikian dalam hal tarekat, kedekatan pesantren masih menjadi perdebatan. Perdebatan tersebut berpangkal pada permasalahan apakah tarekat dapat di-persamakan dengan tasawuf atau tidak. Said Aqil Siradj, misalnya, cenderung tidak mengidentikkan tasawuf dengan tarekat. Alasannya adalah karena dalam prakteknya tarekat tidak lebih sebagai lembaga penataran kewalian terbuka yang dipadati dengan zikir yang ketat, sehingga bukan mendekafkan kepada Tuhan, justru banyak yang terjebak dalam zikir itu sendiri.[28]

Selain itu pertimbangan terminologi tarekat juga menjadi catatan khu-sus. Tarekat dalam tradisi pesantren seririg dibedakan menjadi dua arti; Pertama, menjalankan amalan wirid secara bebas, sesuai dengan selera masing-masing (literaly). Kedua, mengikuti sebuah organisasi tarekat tertentu dan menjalankan wirid/zikir sesuai dengan yang telah ditentukan dalam tarekat tersebut. Pengertian kedua inilah yang kemudian menjadi pe-mahaman umum dikalangan masyarakat Islam.[29]

Sementara itu Nurcholish Madjid menyatakan bahwa gerakan-gerakan tasawuf pada masa itu demikian kuat sehingga mampu membentuk struk-tur masyarakat tasawuf setempat. Struktur yang dimaksud adalah muncul-nya tarekat-tarekat—aspek praktis dari tasawuf—yang dibingkai dengan zawiyah-zawiyah.[30] Zawiyah-zawiyah inilah, menurutnya, yang dalam perkem-bangannya menjadi gilda-gilda dan pusat kegiatan ekonomi dan sebagai pusat pendidikan yang dalam beberapa bagian tertentu akhimya menjadi cikal-bakal tumbuhnya pesantren dikemudian hari. Dan merupakan sebuah kenyataan bahwa pada masa pembentukan (formative periode) tersebut sangat berperan dalam perkembanngan Islam di Indonesia. Oleh karena itu sulit untuk memisahkan keterkaitan antara pesantren dengan tasawuf.

Terkait dengan hal ini Zamakhsyari Dhofier, seorang yang intens dalam penelitian pesantren menyatakan;

“Banyak sarjana berpendapat bahwa pada abad pertama, Islam lebih banyak merupakan kegiatan tarekat, dimana ditandai dengan ter-bentuknya kelompok-kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amalan-amalan dzikir dan wirid dan para kyai pimpinan tarekat mewajibkan pengikut-pengikutnya untuk melaksanakan suluk selama empat puluh hari dalam satu tahun. Untuk keperluan suluk tersebut para kyai menyediakan ruangan-ruangan khusus untuk penginapan dan manasik di sekitar masjid. Disamping amalan-amalan tarekat, pusat-pusat pesantren semacam itu juga mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan agama Islam kepada sejumlah pengikut-pengikut inti.

Lembaga-lembaga pengajian untuk anak-anak dan lembaga-lembaga pesantren yang menjadi pusat-pusat organisasi tarekat ini tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Keduanya saling menunjang dan merupakan satu kesatuan struktur dalam sistem pendidikan Islam tradisional waktu itu”[31]

Terlepas dari semua perdebatan tentang keterkaitan antara pesantren, tasawuf dan tarekat di atas, harus digaris bawahi adalah bahwa kedua institusi tersebut (pesantren dan sufisme) memiliki kultur yang sama, yaitu menjadi benteng tradisonalisme Islam di Indonesia.

 

* Penulis adalah Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang

Bersambung PESANTREN, SUFISME DAN TANTANGAN MODERNITAS (Bagian V)

Sumber: Jurnal DIMAS Jurnal Pemikiran Agama untuk Kebudayaan volume 10 NO. 1 tahun 2010

Sumber gambar: http://1.bp.blogspot.com/-2mJjirnFUl0/UV79ToeXFBI/AAAAAAAAHJc/tnCauIqXO9k/s1600/1.jpg

 

[25] Ibid, him. 54 -55

[26] Menurut Naquib al-Attas, proses Islamisasi di pulai Jawa meliputi tiga tahapan penting; Pertama, sekitar tahun 1200 -1400 M, dimana yurisprudensi atau fiqh memainkan peranan besar dalam menafsirkan dan menarik kalangan pribumi untuk masuk Islam. Pemeluk Islam pada masa ini tidak mesti diikuti oleh implikasi-implikasi rasional dan intelektual dari agama baru Islam. Konsep-konsep fundamental tentang keesaan Allah masih kabur dalam pikiran masyarakat pribumi yang bertumpang tindih dengan konsep lama. Kedua, periode sekitar tahun 1400-1700 M. Pada tahap ini peranan besar dalam menafsirkan agama berjalan terus ke arah mistisisme dan metafisika filosofis yang bersifat spiritual dan unsur rasional intelektual seperti teologi rasional (ilm al-kalam). Ketiga, periode sekitar 1700 M ke atas. la mengakui bahwa pada tahap ini pengaruh budaya Barat cukup dominan. Namun dasar-dasar aqidah keislaman semacam semangat rasionaiitas dan interrasionalitasnya telah menancap kuat Baca: Naquib al-Attas, Islam dan Sehdarisme, (Terj.), (Bandung: Pustaka Salman, 1981), him. 252. Juga Snouck Hurgronje, Islam di Hindia Belanda, (Jakarta: Bhatara, 1983), him. 38

[27] Abdurrahman Wahid, ‘Pesantren sebagai Subkultur“, dalam M. Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan, Jakarta: LP3ES, 1988, him. 40. Mayoritas peneliti pesantren sepakat bahwa tasawuf telah menjadi salah satu materi utama pelajaran pesantren sejak awal berdiirnya. Para peneliti tersebut misalnya; Martin van Bruinesen dan Zamakhsyari Dhofier. Baca: Abdurrahman Wahid, Asal-usul Tradisi Keilmuan di Pesantren dalam Menggerakkan Tradisi: Esairesai Pesantren, (Yogyakarta: LKiS), him. 158-162

[28] Lihat Mohammad Asrar Yusuf, “Melacak Sejarah Tasawuf di Pesantren“, dalam Majalah Pesantren, Edisi IV, (Jakarta: Lakpesdan NU, 2002), hlm. 9

[29] Ibid., Baca juga Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren.. hlm. 10

[30] Nurcholish Madjid, “Pesantren danTasauf‘ dalam ibid, hlm. 104

[31] Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Cet I, (Jakarta: LP3ES, 1982), hlm. 34.

 

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: