PESANTREN, SUFISME DAN TANTANGAN MODERNITAS (Bagian I-VII)

Moh. Khasan*

Abstrak

Artikel ini berbicara tentang pesantren, sebuah lenibaga pendidikan tradisional khas Indonesia. Fokus pembahasannya terarah pada persoalan-persoalan yang terkait dengan respon pesantren terhadap modernisme. Pendekatan deskripttf-normatif diterapkam untuk menganalisa dan menginterpretasikan eksistensi, nilai, dan fenomena pesantren serta berbagai hubungan antara faktor-faktor keagamaan, termasuk pemikiran, praktik, lembaga, otoritas dan proses sosial.

Pembahasan yang lebih jauh dalam makalah ini diarahkan pada pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana elemen-elemen pesantren, seperti kyai dan santri menjaga otonominya, identitas dirinya, dan semangat tradisionalnya ketika berhadapan dengan pengaruh kehidupan modern, seperti globalisasi dan perubahan sosial serta bagaimana pesantren mengantisipasi peran-peran sosial-budayanya dalam konteks dunia modern. Isu-isu penting terkait dengan peran pesantren dalam transformasi sosial yang dibahas adalah: fungsi pesantren sebagai lingkungan spiritual dan Sifism, pesantren sebagai lembaga dakwah, pesantren sebagai penjaga budaya, serta peran-peran sosial pesantren.

Kata Kunci: pesantren, modernisme, globalisasi, peran sosial

  1. The Whirling Dervishes (para darwis yang berputar-putar) merupakan tarian berputar-putar yang diiringi oleh gendang dan suling dalam zikir mereka untuk mencapai ekstase

    The Whirling Dervishes (para darwis yang berputar-putar) merupakan tarian berputar-putar yang diiringi oleh gendang dan suling dalam zikir mereka untuk mencapai ekstase

    Pendahuluan

Globalisasi merupakan istilah yang relatif baru dalam ilmu sosial, oleh karena itu wajar kalau masih menyisakan beberapa permasalahan besar seperti masalah terminologi Sebagian besar pendapat mengatakan bahwa globalisasi mengacu kepada sebuah tatanan dunia yang baru yang serba transparan, cepat dan tanpa batas. Salah satu substansi globalisasi yang disepakati adalah bahwa globalisasi merupakan sebuah proses wajar yang tak terhindarkan sebagai akibat dari semakin majunya peradaban manusia di bidang ilmu dan teknologi (iptek), khususnya teknologi komunikasi dan informasi. Demikian antara lain batasan yang disampaikan oleh Mastuhu:

 

“Globalisasi adalah ideologi dan konsep atau proses tanpa henti yang tidak bisa dibendung atau ditolak. Globalisasi adalah keniscayaan sejarah. Sebagai proses, globalisasi akan mengalami tahapan-tahapan perkembangan yang pada tingkat tertentu mampu membentuk format sosial seluruh kehidupan manusia, baik politik, sosial budaya maupun ekonomi. Sebagai ideologi globalisasi adalah proyeksi kehidupan masa depan atau gejala yang akan terjadi dikemudian hari berdasarkan system yang dominan dalam masyarakat”[1]

Istilah globalisasi berasal dari kata global, yang mengandung arti ke-sadaran baru atas sebuah kontinuitas lingkungan yang terkonstruksi sebagai kesatuan utuh Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, globalisasi didefinisikan sebagai sebuah proses, yaitu proses masuknya ke ruang lingkup dunia.[2] A. Giddens memberi batasan bahwa “globalisasi pada prinsipnya mengacu pada perkembangan-perkembangan yang cepat di dalam teknologi komuni-kasi, transformasi informasi yang bisa membawa bagian-bagian dunia yang jauh (menjadi hal-hal) yang bisa dijangkau dengan mudah”.[3] Dalam konteks inilah, Marshall Mc-Luhans menyebut dunia yang diliputi kesadaran globali¬sasi sebagai global village (desa buana).[4]

Istilah globalisasi yang dipopulerkan oleh Theodore Lavitte pada tahun 1985 dan kemudian menjadi topik menarik dalam setiap pembicaraan secara substansial merupakan ideologi yang menggambarkan proses interaksi yang sangat luas dalam berbagai bidang ekonomi, politik, sosial, teknologi dan budaya.[5]

Sebagai sebuah isu internasional yang secara substansial telah memiliki definisi yang mapan maka kualifikasi globalisasi dengan mudah dapat diformulasikan. Mastuhu misalnya, yang mencoba mengenali globalisasi me-lalui tiga tanda besar, yaitu:

Pertama, globalisasi ditandai dengan menguatnya ruang pribadi (personal space), sehingga kebebasan pribadi untuk mengekspresikan pendapat, jati diri dan kepribadian menyempit karena banyaknya tuntutan dunia modern yang hams dipenuhi. Kedua, globalisasi ditandai dengan era kompetisi. Kompetisi yang terjadi antar bangsa itu bias mencakup semua bidang seperti ekonomi, politik (struggle of power) maupun ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Ketiga, globalisasi ditandai dengan meningkatnya intensitas hubungan antar budaya, norma sosial, kepentingan dan ideologi antar bangsa. Konskeuensi dari hal ini adalah bahwa setiap bangsa sangat dituntut untuk memiliki kesiapan kultural untuk melakukan integrasi tanpa mengorbankan identitas lokal nasionalnya.[6]

Kehadiran sebuah entitas yang kemudian dikenal sebagai globalisasi, sebuah produk dari peradaban modern[7], sebenarnya telah lama diprediksi-kan oleh Arnold J. Toyribee. la mengatakan bahwa: “Para ahli sejarah di masa mendatang akan berkata bahwa kejadian yang besar di abad kedua puluh adalah pengaruh kuat peradaban Barat terhadap semua masyarakat di dunia. Mereka juga mengatakan bahwa pengaruh tersebut sangat kuat, bisa menembus dan mampu menjungkirbalikkan korbannya”.[8]

 

* Penulis adalah Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang

Bersambung PESANTREN, SUFISME DAN TANTANGAN MODERNITAS Bagian II-

 

Sumber: Jurnal DIMAS Jurnal Pemikiran Agama untuk Kebudayaan volume 10 NO. 1 tahun 2010

Sumber gambar: http://quantummethod.org/sites/default/files/images/slide_photo/Maulana_Jalaluddin_Rumi_.jpg

 

[1] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta: INB, 1994), him. 274 211m Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Get IV, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hlm.320

[2] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Get IV, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hlm.320

[3] A. Giddens, The Consequences of Modernity, (Cambridge: Polity Press, 1990), him. 64. Baca juga: Akbar S. Ahmed dan Hastings Donnan, Islam, Globalization and Postmodemity, (London: Routiedge, 1994), hlm 1

[4] Peter D. Sutherland, Shaping Globalization, (Yogyakarta: Jendela, 2000), him 113

[5] Baca: Muhtarom, Reproduksi Ulama di Era Globalisasi, Resistansi Tradisional Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), him. 44 – 45

[6] Mastuhu, op. at, him. 274 – 275

[7] Modern (modernisme) biasa diberi definisi dengan “fase sejarah dunia yang paling akhir yang ditandai dengan kepercayaan terhadap sain, perencanaan, sekularisme dan kemajuan. Baca: Akbar S. Ahmed, Postmodemisme and Islam; Predicament and Promise (London: Routiedge, 1992)

[8] Arnold J. Toynbee, Civilization on Trial, (New Yoric Oxford University Press, 1948), hlm. 214

 

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: