Meneguhkan Laskar Ulama-Santri

Mengingat salah satu tokoh filsuf awal, Plato mendudukan filsafat/pengetahuan di tempat yang paling mulia karena ia beranggapan hanya filsafat/pengetahuanlah yang sanggup membimbing dan menuntun manusia. Menuju pengenalan yang benar akan segala sesuatu yang ada dengan dan dalam keberadaannya masing-masing. Oleh karena itu pengetahuan layak ditempatkan di tempat yang utama. Bila pengetahuan di tempat yang utama dan paling mulia, maka wajarlah apabila pengetahuan itu menjadi sumber kekuasaan. Karena itu Plato mengatakan bahwa pengetahuan adalah kekuasaan.

Demikian pula dengan sejarah bangsa terdiri dari pengetahuan yang berserakan dipelbagai tempat, narasumber, tulisan dan sumber sejarah lain. Terlepas dari itu berbagai versi akan muncul, kesan yang selama ini muncul bahwa peran ulama-santri dalam mengawal kemerdekaan Indonesia tidak begitu tampak di permukaan. Adagium pemerintah yang berkuasalah yang memiliki sejarah, tampaknya masih berlaku.

Sampul kulit buku "Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949)"

Sampul kulit buku “Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949)”

Data buku:

Judul              : Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949)

Penulis          : Zainul Milal Bizawie

Penerbit        : Pustaka Compass

Cetakan         : Januari, 2014

Tebal              : XXXII + 419 halaman

ISBN               : 978-602-14673-2-9

 

Azumardi azra mencatat dalam buku “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII Akar Pembaruan Islam Indonesia”, bahwa setidaknya gerakan jihad sudah dimulai semenjak abad XVIII dimotori oleh Al-Palimbani (Abd Al-Shamad/1704-1785) dan Al-Fatani. Walaupun keduanya tidak menetap di Nusantara bahkan di tanah Haram, peran kedua ulama ini untuk mengompori pengusiran penjajah terbukti.

Keduanya mampu mengomunikasikan pesan berbasis jaringan yang telah dibangun oleh ulama sebelumnya antara Melayu (Nusantara) dengan tanah haram. Hingga Al-Palimbani mampu berperan dalam menyampaikan surat ke raja-raja Jawa pada waktu itu (Sultan Mataram/Hamengkubuwono I, Pangeran Pakunegara/Mangkunegara), walaupun tercatat sejarah bahwa surat tersebut disabotase oleh pihak Belanda.

Al-Palimbani juga memiliki kitab terkait Jihad ini, yaitu Nasihah Al-Muslim wa Tadzkirah Al-Mu’minin fi Fadhail Al-Jihad fi Sabil Allah wa karamah al-Mujahidin fi Sabil Allah, karya ini berbahasa Arab, sehingga tidak hanya ditujukan kepada khalayak Nusantara tetapi menyeluruh bagi umat Muslim. Al-Palimbani juga tidak begitu mempersoalkan perpecahan dan pertikaian yang ada di Kesultanan Mataram malah sebaliknya dia mengingatkan akan kebesaran dan mengimbau para penguasaanya untuk membangkitkan kejayaan Mataram melalui Jihad.

Sebelum beranjak jauh menikmati sajian buku ini, kita harus menyatukan persepsi atas adanya korelasi antara ulama, santri dan jihad. Jihad yang dimaksud di sini adalah pengertian yang diajukan oleh Mircea Eliade bahwa jihad merupakan kewajiban perang melawan musuh, dan bersifat defensif. Jihad yang dikaitkan dengan aspek keagamaan yaitu hukum agama lebih cenderung merupakan tindakan untuk membela atau menegakkan ajaran agama, bukan melakukan ofensif terhadap bidang diluar itu. Sedangkan terma ulama yang dimaksud adalah sama dengan penyebutan kyai, ajengan, abuya dan syekh. Yang perlu digarisbawahi adalah ulama memiliki kemampuan penguasaan ilmu dan bakat kepemimpinan, mencerminkan kemampuan batin dan lahir. Ulama bukan hanya sebagai tempat rujukan bagi nasehat dan petunjuk, tetapi juga bisa mengaktifkan kemampuaannya dengan memegang kepemimpinan dan memberikan instruksi dalam bentuk fatwa, termasuk di dalamnya fatwa tentang jihad. (halaman 11)

Ketiga bahwa santri secara sempit dalam buku ini berarti murid atau siswa yang sedang belajar ilmu keagamaan Islam dibawah asuhan kyai atau ulama, dengan cara bermukim di sebuah tempat yang disebut pesantren. Dari sinilah kita bisa melihat ketiga unsur ini memiliki kaitan yang penting dalam penyusunan buku ini. Di pesantren misalnya masih terdapat tradisi mewariskan tongkat kepemimpinan pesantren pada keluarga terdekat ditambah lagi dengan adanya jaringan aliansi pernikahan antara keluarga kyai serta pengembangan transmisi pengetahuan dan intelektual antar kyai dan keluarganya. Dengan cara inilah kontak dan jalinan antar pesantren bisa terawat dengan baik dan menciptakan suatu jaringan yang kuat (halaman 14)

 

Pesantren benteng NKRI

Secara tidak langsung NU menjadi simpul pengikat perjuangan Ulama-Santri, dimulai dengan Taswirul Afkar-Islam Study Club-Nahdlatul Wathan-Syubbanul Wathan-Komite Hejaz-kemudian lahir Nahdlatul Ulama. Bahkan KH. Wahab mengarang Syair Cinta Tanah Air (Hubbul Wathan) pada tahun 1934, syair ini dibacakan setiap hari sebelum masuk kelas di pesantren Tambak Beras Jombang. (halaman 143) Yang menarik bahwa terdapat lirik yang menyatakan //Indonesia bilady// (Indonesia negeriku). Bahwa kita tahu Indonesia belum merdeka namun, nama itu sudah dikenal sebelum kemerdekaan resmi dikumandangkan.

Laskar Hizbullah yang menjadi “bumper” perjuangan kemerdekaan banyak yang tidak masuk dalam berbagai divisi kemiliteran di berbagai daerah di Indonesia. Ada sebagian pula yang melebur dalam TNI. Akhirnya, para kyai dan santri ini kembali ke pesantren dan mendidik masyarakat. Diantara pesantren yang menjadi pusat benteng pejuang dalam perang kemerdekaan. Yaitu, pesantren Lirboyo, Al-Hikmah Kediri, Sidogiri Pasuruan, Al-Muayyad Surakarta, Al-Hikmah Brebes, Gambiran dan Pulosari Lumajang (halaman 382).

Walaupun peranan pesantren, ulama dan santri pada masa awal kemerdekaan dalam buku ini dijelasakan begitu jelas. Namun, kita belum bisa melacak secara gamblang dalam sejarah nasional kita, apalagi menemukan dalam buku ajar sejarah di sekolah hingga perguruan tinggi. Zainul Milal Bizawie mengajak kita untuk memahami buku ini sebagai bentuk kritik epistemologis terhadap penulisan penulisan sejarah nasional selama ini.

Kita juga tidak bisa melepaskan perjuangan Pangeran Diponegoro sebagai salah satu pionir penentang kolonial. Perang Jawa yang berlangsung selama 5 tahun menjadi tonggak terbentuknya jaringan Ulama nusantara baik lokal dan internasional. Hal ini juga dipengaruhi oleh perjuangan sisa pasukan Diponegoro, diantaranya Kyai Abdus Salam Jombang, Kyai Umar Semarang, Kyai Abdur Rauf Magelang, Kyai Yusuf Purwakarta, Kyai Muta’ad Cirebon, Kyai Hasan Basyari Tegalsari Ponorogo dengan muridnya Kyai Abdul Manan Pacitan.

Bila mengatakan bahwa hadratusy syaikh (tuan guru besar) KH. Hasyim Asyari sebagai pencetus resolusi Jihad benar adanya. Perlu diingat bahwa genealogi pemikiran ini bersambung pada pada Pangeran Diponegoro (1785–1855) hingga Al-Palimbani (Abd Al-Shamad/1704-1785) yang telah menulis kitab Jihad. (Mukhamad Zulfa-red)

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: