Ke PWNU Jateng, Waketum PBNU Berikan Pengarahan

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah mengadakan Silaturahim dan Diskusi dengan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar NU H As’ad Said Ali di lantai tiga gedung PWNU, Semarang, Kamis (27/3).

KH. Dr. As'ad Said Ali

KH. Dr. As’ad Said Ali

Acara yang digelar sederhana ini dihadiri alumnus Pelatihan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) angkatan I Jawa Tengah, ketua lembaga, lajnah dan badan otonom di lingkungan PWNU Jateng, juga tampak pengurus teras tanfidziyah dan syuriyah.

Abu Hafshin, Ketua PWNU Jawa Tengah, menyatakan dalam sambutannya bahwa NU perlu mengimbangi kekuatan organisasi dengan kekuatan ekonomi.

Dikatakannya NU memiliki banyak tantangan diantaranya bidang politik, NU merupakan organisasi sosial kemasyarakatan, tidak mungkin berpolitik praktis. Mengutip pernyataan KH Sahal Mahfud bahwa politik NU adalah politik kebangsaan dan kerakyatan.

 

 

Lebih lanjut baca: http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,51056-lang,id-c,nasional-t,Ke+PWNU+Jateng++Waketum+PBNU+Berikan+Pengarahan-.phpx

Sumber gambar: http://www.nu.or.id/onefiles/nu_or_id/dinamic/mid/1331511405.JPG.

 

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: