Hidupkan Kembali Jaringan NU (Bagian II-habis)

Orang Dekat Gus Dur  

Sejak dititipkan oleh Kiai Mustholih pada 1989 hingga Gus Dur wafat pada 2010 hubungan H Marsudi dengan Gus Dur selalu terawat dengan baik. Tidak pernah konflik seperti tokoh yang laia. “Sejak sebelum Gus Dur jadi presiden saya sudah ada di Gedung MPR. Cuma saya jobnya lain.” H Marsudi melempar teka-teki, tanpa mau membuka rahasia job lain’ tersebut.

Ada kejadian menarik menjelang Gus Dur wafat. la diperintah oleh Gus Dur untuk mengirim surat dengan tujuan yang aneh: kepada yang terhormat presiden di dunia ini, dari Gus Dur. Tanpa alamat. “Aneh,” pikirnya. Meski sudah sekian tahun hidup bersama Gus Dur dan sudah seringkali menemukan hal-hal ganjil dari putra KH A Wachid Hasyim itu, namun ia belum pernah mengalami keanehan seaneh saat itu. Hatinya terus penasaran.

Dr. H. MARSUDI SYUHUD sedang rapat pleno dengan PBNU di Jogjakarta 2013

Dr. H. MARSUDI SYUHUD sedang rapat pleno dengan PBNU di Jogjakarta 2013

Batinnya terus menggejolak rasa ingin tahu.  Apalagi sampul surat itu tidak dilem, meski yang dituju seorang presiden. Disaat rasa penasaran itu semakin tak tertahankan, akhirnya ia bertekad untuk membuka isi surat tersebut  Bismillah. Bak disambar petir. Alangkah kaget hati H Marsudi. Ternyata isi surat itu sangat singkat. Hanya ada tulisan nama, email dan nomor HP dirinya. Lho, kok bisa? Apa maksud semua ini? Rasa ingin tahunya semakin tak terhingga, namun ia tidak berani menanyakan langsung kepada Gus Dur.

Anehnya lagi, ketika itu dikirim melalui jasa pengiriman Feedex, ternyata sampai juga. Seminggu kemudian ia dihubungi oleh staf ahli presiden, lalu dapat kiriman email. Dari situlah ia tahu jaringan Gus Dur di seluruh dunia, H Marsudi diminta untuk mengurus dan merawat jaringan itu kembali. Ternyata luar biasa. Ada tokoh agama. politik, bisnis, dlsb. Yang juga sangat aneh, ia ditelepon langsung oleh staf ahli presiden tersebut. “Saya benar-benar tak habis pikir,” jelasnya. Akhirnya ia bertekad menghidupkan jaringan itu untuk dijadikan jaringan NU.

Kini jaringan itu sudah benar benar hidup. Parlemen Eropa, Amerika Serikat dan tokoh-tokoh agama sedunia sampai Vatikan sudah sangat welcome kepada PBNU. Di tiap negara ada kerjasama. Kadin Muslim Cina, Head Quarternya Eropa, Australia, semua terbuka Nama NU pun semakin harum di mata internasional dengan dibukanya  Kantor Perwakilan NU di Washington DC.

Di Brussel, Jerman semakin banyak lagi tokoh yang conford to Islam, ada 169 masjid yang minta imamnya dikirim dari NU. Belum yang dari Rusia dan Cina. Banyak,” tambahnya.

Masih tentang Gus Dur, H Marsudi pernah diundang untuk mem berikan pidato perdamaian di Vati kan, Roma. Italia, tempat berkumpul seluruh tokoh agama-agama sedunia, untuk menyikapi perdamaian di Syiria dan negara-negara yang sedang konflik. Setelah ceramah H Marsudi beramah tamah sambil makan siang bersama para pimpinan Katolik Roma sambil menceritakan tentang Gus Dur. Menurut mereka, ceramah orang NU (Gus Dur dan Pak Marsudi) membuat suasana jadi lebih hangat karena pasti diselingi dengan humor-humor sentilan. Tapi ada satu kalimat yang tidak bisa ditirukan oleh H Marsudi. Di depan audien para tokoh agama di Vatikan, Gus Dur mengakhiri ceramahnya dengan kalimat, “Saya akan datang ke sini lagi tahun depan, dan saya sudah atas nama Presiden Rl”. Kala itu sontak para pemimpin agama mikir dan mengira-ngira, apa Gus Dur sedang sakit? Ribuan pertanyaan dipendam dalam hati. Namun ketika setahun kemudian Gus Dur datang lagi yang ketiga dan Gus Dur sudah sebagai Presiden Indonesia, betapa kagum mereka, karena ingat setahun lalu bahwa Gus Dur pernah menjanjikan itu.

“Ketika ingatan itu muncul kembali, sebagian dari mereka ada yang meneteskan air mata, karena meya-kini bahwa Gus Dur adalah sejenis Santo (wali) menurut keyakinan mereka,” tandas H Marsudi seraya menerawang langit-langit kantornya sambil memandangi foto Gus Dur di dinding kantornya.

 

Berantem di NU

H Marsudi memang termasuk orang yang berpikiran bebas, mudah cuek dan tidak ambil pusing dengan urusan. Ditanya tentang psikologis di NU yang antar kiai dan pengurus mudah ‘berantem’ dengan membentuk kubu yang saling berhadapan, ia tidak ambil pusing. Justru ia menganggap persoalan itu malah bernilai positif, asal bisa dikendalikan secara managerial. la yakin, karena dirinya pernah belajar manajemen saat ku-hah S2 di Untar Jakarta (yang satu kelas cuma dia yang berkulit coklat, lainnya putih semua). “Apalagi cuma memenej yang kulitnya sama, insya Allah tidak ada maaalah,” jelasnya.”

Ternyata ia menggunaknn logika sepeda. Kalau rantai dan gear berantem-terus, maka roda menjadi berputar dan sepeda akhirnya berjalan. “Kalau tak berantem, ya malah berhenti, he he he,” candanya sambil terkekeh. Jadi kalau para kiai berantem terus, NU-nya malah akan jalan kenceng. Makanya tidak usah khawatir. “Gitu aja kok repot,” imbuhnva sambil menirukan gaya Gus Dur.

 

Artikel utuh ini diambil dari Rubrik Tokoh di Majalah AULA Ishdar 02 SNH XXXVI Pebruari 2014 halaman 35-37.

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: