Hidupkan Kembali Jaringan NU (Bagian I-II)

Nama NU semakin harum di pentas internasional. Banyak negara dan tokoh agama dunia tertarik dengan Ormas Islam terbesar itu. Semua itu dapat ter-jadi berkat adanya jaringan yang kuat yang dirintis Gus Dur, dari Washington DC.Utah, Atlanta, Munich, UK, Brussel sampai ke Vatikan. Jaringan menjadi awet ketika ada yang merawat. Tidak banyak orang tahu, tokoh kita yang satu ini berperan besar dalam merawat jaringan penting tersebut.

 

Dr. H. MARSUDI SYUHUD (Sekretaris Jenderal PBNU)

Dr. H. MARSUDI SYUHUD (Sekretaris Jenderal PBNU)

Bertubuh gempal dengan perawakan  sedang. Bersuara keras dan gaya bicara blak-blakan sekaligus meledak-ledak, namun memiliki selera humor tinggi. Kalau sedang tertawa bisa-bisa orang di seluruh ruangan di Kantor PBNU mendengar, ha ha ha. Itulah gambaran umum sosok Dr. H. Marsudi, Sekretaris Jenderal PBNU, yang ruang kerjanya bersebelahan dengan ruang Ketua Umum PBNU Dr. KH Said Aqiel- Siiodj, MA. “Saya ini orang kampung, Mas, Kebumen,” ujarnya membuka pembicaraan santai dengan nada merendah. “Tapi sejak kecil saya selalu sekolah di luar negeri,” lanjutnya dengan mimik (seperti) sungguh-sungguh. Lho, hebat kan? Ternyata maksudnya bukan begitu. “Sekolah di luar negeri itu artinya tidak pernah masuk sekolah negeri. Saya selalu sekolah swasta, ha ha ha,” jelasnya sambil tertawa.

Pria yang memiliki kelebihan mudah bergaul dalam lingkungan baru ini pun menuturkan perjalanan hidupnya. Putra pasangan H Suhudi dan Hj Sairah ini lahir di Desa Jogosimo Ke-camatan Klirong Kabupaten Kebumen 50 tahun silam. Pendidikan dasar dan sekolah diniyah yang harus menghafal Jurumiyah dan Imrity diselesaikan di kampungnya. Setelah itu merantau ke Pesantren Raudlatul Mubtadiin di Jatisari, Jenggawah, Jember, berguru kitab-kitab salaf kepada KH Abu Hamid. Di pesantren yang terkenal dengan sorogan kitab  salafnya itu ia belajar selama empat tahun. Jadilah ia banyak mengenal karakter masyarakat Jawa Timur yang kental dengan nuansa Madura-nya.

Tahun 1982 pindah ke Cilacap untuk belajar di Pondok Pesantren Al-Ihya’ Ulumiddin Kasugihan asuhan KH Mustholih Badawi. Di sini ia menamatkan pendidikan MTs dan MA, juga kitab-kitab salaf seperti Alfiyah Ibnu Malik dan Ihya’ ulumiddin. Ketika berlangsung Munas Alim Ulama NU di Kasugihan (tahun 1986) ia sudah terlibat sebagai panitia. Tak lama setelah Munas, ia diajak oleh Kiai Mustholih, yang saat itu menjadi salah seorang Rais Syuriah PBNU, ke Jakarta untuk dititipkan kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada saat yang sama ia mendapatkan beasiswa dari LPBA. Jadilah ia bermukim di Jakarta dan tinggal di Komplek Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah Kebon Jeruk asuhan KH Nur Muhammad Iskandar, SQ, sampai jadi asisten pengasuh.

Beasiswa LPBA tidak diteruskan. Ia lebih memilih menjadi guru dan ku-liah di STKIP PGRI Jakarta. Tahun 1994 menikah dengan Mufizah binti KH Abdurrohinn, Pengasuh Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Banjar Patoman, Ciamis, yang juga masih kepon-akan dekat Kiai Mustholih. “Jadi, dari Kiai Mustholih itu selain dapat ilmu, saya juga dapat istri,” akunya sembari bergurau. Pada tahun yang sama ia mendirikan Pondok Pesantren Barokatur Rohman di Sukabudi, Tambelang, Bekasi. Juga mendirikan pesantren satu-satunya di Indonesia yang bericon ekonomi, Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, yang khusus untuk mahasiswa S1 dan S2 di Kedoya Selatan Kebon Jeruk Jakarta Barat. Pesantren ini menitikberatkan pelajarannya pada skill, leadership, interpreneurship, dan memperdalam kitab-kitab mu’amalah (ekonomi).

Sebagai anak orang NU dan menjalani pendidikan di lingkungan NU, naluri ke-NU-annya tidak dapat dipungkiri. Sejak masuk Jakarta ia langsung aktif bergabung petama jadi Banser yang direkrut langsung oleh H Suaedi di Jakarta, dan seragam Bansernya sampai kini masih disimpan rapi untuk kelak ditunjukkan ke anak cucu dan santri agar bisa jadi petuah.

Selain aktif di Banser, ia juga sebagai pengurus di PP LPNU yang diketuai oleh Bapak Lutfi, MBA saat jaman Gus Dur. Tahun 1996 diangkat sebagai Wakil Sekretaris PWNU DKI Jakarta dibawah Ketua KH A Wahid Bisri. Ketika PKB didirikan ia duduk sebagai Sekretaris Dewan Syuro DKI untuk dua periode kepengurusan dengan Ketua Tubagus Abbas dan Marzuki Usman.

Hasil Muktamar Makassar 2010 mengangkat dirinya untuk duduk sebagai salah seorang Ketua PBNU. Selang beberapa bulan kemudian, ketika terjadi perubahan di internal PBNU, ia dipercaya untuk duduk sebagai Sekjen PBNU hingga sekarang.

Selain organisasi induk yang turun-temurun dari orang tua NU, ia juga aktif diberbagai organisasi lain, seperti Ketua Kerukunan Umat Beragama, Bisma, Global Peace Foundation yang berkantor di Washington DC, Induk Koperasi Pesantren (Inkopontren), Dekopin, HKTI, World Economic Fonim. Juga berkiprah di dunia ekonomi syariah, sebagai Ketua LKMS di Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) periode yang lalu, dan sampai sekarang sebagai pembina. Juga menjadi pembina di Ikatan Saudagar Muslim (ISMI) karena S3 yang ia geluti di Universitas Trisakti adalah Islamic Economic and Finance (IEF).

Bersambung Hidupkan Kembali Jaringan NU (Bagian II-habis)

Artikel utuh ini diambil dari Rubrik Tokoh di Majalah AULA Ishdar 02 SNH XXXVI Pebruari 2014 halaman 35-37.

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: