BP4 Pati Adakan Praktek Ubudiyah Santri Putri

Pati, (27/10) Badan Pelayanan Pondok Pesantren Putri (BP4) Pati mengadakan pelatihan bimbingan ubudiyah. Bertempat di aula Madrasah Stanawiyah/Aliyah Al-Hikmah, Kajen, hadir puluhan santri putri utusan dari berbagai pesanten di kecamatan Margoyoso dan sekitarnya. Tampak sebagai narasumber Ibu Nyai Umdah El-Baroroh (pengasuh Pondok Pesantren Mansajul Ulum, Cebolek) dan Ibu Nyai Royyanach Ahal (pengasuh Pondok Pesantren Permata Al Hikmah, Kajen).

Salah seorang santri putri peserta pelatihan memberikan ulasan terhadap apa yang telah diterima selama pelatihan, (27/10)

BP4 ini merupakan departemen yang ada dalam Pengurus Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama Pati. Dalam pelatihan kali ini tak hanya mendapatkan pemahaman materi dari pemateri tapi sekaligus mempraktekkannya. Harapan dari panitia santri putri ini mampu mengajarkan kembali materi pada teman-temannya di pesantren.

Terdapat dua sesi dalam pelatihan kali ini, sesi pertama pembahasan mengenai bersuci (thaharah); kajian tentang najis dan jenis-jenisnya berikut cara mensucikannya. Ibu Nyai Umdah El-Baroroh menjelaskan dengan berbagai macam pemahaman fikih yang diajarkan di pesantren-pesantren salaf pada umumnya. Sedangkan, Ibu Nyai Royyanach Ahal menyampaikan tatacara berwudhu dengan baik dan benar, tayammun dan cara mandi besar.

“Alhamdulillah saya bersyukur dan senang sekali melihat antusiasme peserta mengikuti pelatihan ini, padahal itu diadakan hampir seharian, mulai pagi hingga petang, waktu bisa maksimal digunakan, istirahat hanya makan dan Dzuhur saja,” terang Neng Yana (sapaan akrab Ibu Nyai Royyanach Ahal) yang juga aktif di Gerakan Ayo Mondok Nasional.

Tak hanya diajari tentang ubudiyah, kegiatan ini juga mempererat silaturrahim santri putri antar pesantren. Peserta merasakan pelatihan ini penting bagi mereka, bahkan peserta justru mengharapkan pelatihan praktek ubudiyah ini dapat sering diadakan.

“Alhamdulillah saya bersyukur dan senang sekali melihat antusiasme peserta mengikuti pelatihan ini,” terang Neng Yana.

Pada sesi terakhir, peserta diminta membuat resume kelompok dari keseluruhan materi. Selanjutnya, mempresentasikan resume tersebut didepan forum. Kesan dari peserta kegiatan ini bisa diduplikasi dan menjadi acara rutin BP4, mengingat materi ini merupakan materi sehari-hari yang selalu dipraktekkan. (Kamilia/red).

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: