Pondok Pesantren al-Badriyyah Wisuda 289 Khotmil Alquran

Demak, nujateng.com – Pondok Pesantren al-Badriyyah Mranggen Demak kembali menyelenggarakan Haflah at Tasyakkur Khotmil Al-Quran ke 41 di halaman pesantren,Sabtu (13/5/2017). Acara ini merupakan agenda rutin setahun sekali yang dilaksanakan sebagai bentuk syukur atas prestasi santri dalam mengaji dan menghafal   al-Qur’an.

Pada Khotmil Qur’an ke 41 kali ini, jumlah khotimin-khotimat sebanyak 289 santri, dengan rincian;  Khotimat bil hifdhi 30 juz 7 santri, Khotimat Binnadzri 91 santri, Khotimat bil hifdzi Juz ‘amma 100 santri, Khotimin bil hifdhi 30 juz 2 santri, khotimin bin nadzri 45 santri dan khotimin bil hifdhi juz ‘amma 44 santri. Pengasuh berharap agar para santri terutama kepada santri yang telah hafal  Al-Quran 30 juz  tetap berusaha menjaganya  dengan istiqomah.

Dalam tausiyah yang disampaikan oleh KH. Ulin Nuha Arwani, para santri diharapkan bersyukur kepada Allah SWT karena telah diberi nikmat mengkhatamkan Al- Quran, apalagi sampai ada santri yang dapat mengkhatamkan Al Quran 30 juz bil hifdzi.

“Cara bersyukur yakni tetap membacanya dengan rutin dan istiqomah dengan terus mengkaji, menghayati dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.

Ketua panitia penyelenggara, H. Muhammad Hamam Muhibbin, mengatakan bahwa selain sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan santri Pesantren Al-Badriyyah dalam mengikuti pembelajaran mengkaji Al-Qur’an, kegiatan Khotmil Qur’an ini merupakan wadah syiar tentang perlunya pembelajaran Al-Qur’an dan harus ditangani dengan serius.

“Alhamdulillah, semoga mengaji Al-Qur’an di pesantren ini, bisa bermanfaat baik untuk para santri, keluarga dan masyarakat. Lebih dari itu, amat diutamakan agar ajaran-ajaran Al-Qur’an bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Seusai prosesi wisuda para khotimin-khotimat, puncak acara Khotmil Qur’an ini dilanjutkan pengajian akbar oleh KH. Mu’in Abdurrohim dari Banjar Jawa Barat dan KH. Mahyan Ahmad dari Grobogan Jawa Tengah. Pengajian berlangsung meriah nan khidmat. Tidak kurang dari 2000-an jamaah memadati halaman pesantren al-Badriyyah, baik para wali santri, alumni, dan masyarakat sekitar.

Dalam mauidhoh hasanahnya, KH. Mu’in Abdurrohim mengisahkan kembali kehidupan orang tua Imam Syafi’i yang sarat makna hikmah yang patut diteladani oleh masyarakat sekarang ini.

“Dari pasangan suami-istri yang terjaga dari dosa dan maksiat, haram dan kemungkaran ini, kemudian lahir seorang anak shaleh teladan, yang bahkan dalam umur enam tahun telah hafal Al-Quran. Dialah Muhammad bin Idris Assyafi’i yang tak lain adalah Imam Syafi’i. Itulah buah kesabaran dari ayah seorang ulama besar sepanjang masa ini. Sang ayah begitu sabar dalam menahan dan menghindari makanan yang haram, juga ibu yang selalu menjaga kesuciannya.” Jelasnya

Lebih lanjut ia menjelaskan tentang peranan santri dan ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya santri merupakan bagian dari entitas umat Islam Nusantara, boleh dikata santri merupakan wakil Umat Islam dalam proses kemerdekaan kala itu yang patuh pada petuah Ulama yang penuh nilai-nilai Qur’ani.

“Saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, para santri dan kiai pesantren memahami dan menerapkan betul kalimat “Hubbul wathan minal iman”, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Sehingga apapun akan mereka lakukan untuk mempertahankan kemerdekaan tersebut. Meski harus mengkorbankan nyawa sekalipun.” imbuhnya. (Ben Zabidy/003)

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *