Asal Muasal Perayaan Maulid Nabi dalam Islam

 

Bulan Rabiul Awwal sudah tiba, bulan di mana Nabi yang paling agung, Nabi yang membawa risalah terakhir dilahirkan di dunia. Hampir seluruh umat Islam khususnya di Indonesia merayakan hari lahirnya sang pembawa cahaya yang menuntun umatnya dari gelapnya zaman jahiliyah menuju zaman cahaya keilmuan Islam. Kebanyakan umat Islam merayakannya sebagai ungkapan rasa syukur dan rasa cinta yang begitu besar karena kelahiran Nabi SAW. Namun, yang perlu kita ketahui pernahkah generasi awal merayakan Maulid Nabi? Kapankah Maulid Nabi mulai dirayakan ? Siapakah yang pertama kali menggagas dan merayakan hal tersebut?

Dan seperti yang sudah kita tahu, bahwa generasi awal Islam dari abad pertama-ketiga (salafus sholeh) itu belum melaksanakan Maulid Nabi. Padahal mereka adalah generasi yang paling dekat dengan Nabi SAW. Dan mereka yang paling tahu apa yang dilakukan Nabi SAW, karena mereka selalu hidup berdampingan dengan Nabi, dan juga generasi yang paling dekat dengan beliau. Oleh karena itu, kita dituntut untuk tahu sejarah awal mula dirayakannya Maulid Nabi SAW. Karena sesuatu pekerjaan yang tidak didasarkan atas ilmu maka akan sia-sia. Sebagaimana Rasullah bersabda :

عن أم المؤمنين أم عبدالله عائشة رضي الله عنها قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ” رواه البخاري ومسلم , وفي رواية لمسلم ” من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد “.

Artinya : Dari Ummul mukminin Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Dan dalam riwayat lain dari Imam Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”.

Pengertian Maulid

Kata “maulid” secara bahasa berarti waktu kelahiran. Dalam kitab Lisanul Arab karya Ibnu Mandhûr disebutkan bahwa kata maulid bermakna: “Maulid al-rajul: wilâdatuhu.” Jadi, yang dimaksud dengan kata maulid adalah waktu kelahiran seseorang. Adapun pengertiannya secara istilah adalah sebuah perkumpulan yang di dalamnya terdapat pembacaan ayat Al-Quran, sholawat, pujian dan sirah Nabi SAW., serta boleh juga ditambahkan dengan menghidangkan makanan bagi para hadirin. Dan perbuatan semacam ini tergolong dalam amalan bid’ah hasanah yang mendapat pahala karena bertujuan mengagungkan Nabi Muhammad SAW dan menampakkan kegembiraan atas kelahiran beliau.

Sejarah Maulid

Ada beberapa pendapat tentang asal mula maulid Nabi SAW :

1. Pendapat pertama mengatakan bahwa Sholahuddin Al Ayubi yang pertama kali memulai perayaan Maulid karena melihat kondisi Muslimin pada waktu itu semakin jauh dengan sunnah-sunnah Rasullah SAW. Sedangkan para tentara salibis setiap saat siap untuk menyerang pasukan Muslimin dalam sekali hantaman. Dan dengan ijtihad, beliau akhirnya mengadakan Maulid Nabi SAW agar menumbuhkan sunnah-sunnah yang mulai memudar dari tubuh muslimin dan semangat juang dalam menegakkan kalimatullah.

2. Sedangkan pendapat kedua para ahli sejarah seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn al-Jauzi, Ibn Kathir, al-Hafizh al-Sakhawi, al-Hafizh al-Suyuthi dan lainnya telah bersepakat menyatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan Maulid adalah Sultan al-Muzhaffar, bukan Shalahuddin al-Ayyubi. Sebagaimana yang dituliskan ibnu Khallikan dalam kitabnya yang bernama Wafayat al-A’yan ; bahwa Imam al-Hafidz Ibn Dihyah datang dari Maroko menuju ke Syam, dan seterusnya hingga sampai ke Irak. Ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 H, beliau mendapati Sultan al-Muzhaffar, penguasa daerah Irbil itu sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dan pendapat ini juga diperkuat oleh Imam Suyuthi dalam kitab beliau ; Husnul Maqoshid fi ‘amalil Maulid. Beliau menjelaskan bahwa orang yang pertama kali menyelenggarakan Maulid Nabi adalah Sultan al-Muzhaffar, penguasa daerah Irbil yang terkenal loyal dan berdedikasi tinggi.

3. Sedangkan Pendapat ke-3, menurut ahli sejarah seperti al-Maqrizy serta mufti Mesir as-Syaikh al-Muti’iy dan Syekh Ali Mahfudz mengatakan bahwa kelompok Syi’ah Ubadiyah yang berkembang pesat saat Dinasti Fathimiyah berkuasa di Mesir sebagaimana yang beliau tuliskan dalam kitab beliau al-Ibda’ fi Madhoril Ibtida’.

Namun, terkait tuduhan bahwa Perayaan Maulid Nabi pertama kali diadakan pada masa Dinasti Fathimiyah (Syiah), Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki “dawuh” dalam kitab beliau Dhiya’utthullab : “Dan tidak perlu memperdulikan ucapan seseorang yang mengatakan bahwa yang pertama kali merayakan Maulid Nabi adalah al-Fathimiyyun. Sebab hal ini bisa jadi karena suatu kebodohan atau pura-pura tidak tahu kebenaran.”

4. Namun ada juga pendapat lain. Dan pendapat ini bisa menjami’kan (merangkum) semua pendapat- pendapat diatas. Pelopor pertama Maulid Nabi SAW adalah saat Dinasti Fathimiyah yg berfaham Syi’ah Ubadiyah berkuasa di Mesir. Namun ihtifal/perayaan yang dilakukan oleh mereka itu beragam, jadi tidak terkhusus Maulid Nabi SAW saja. Seperti perayaan Maulid Ali bin Thalib KRW, Maulid Hasan-Husein RA, Maulid Fathimah RA, dan lain-lain. Namun ketika Dinasti Ayyubiyah yang berfaham Sunni menggantikan Dinasti Fathimiyah, maka dibatalkanlah semua pengaruh saat Dinasti Fathimiyah yang berfaham Syi’ah berkuasa dulu di seluruh wilayah kekuasaan Dinasti Ayyubiyah kecuali Sultan al-Muzhaffar penguasa daerah Irbil yang menikahi saudari Shalahuddin al-Ayyubi.

Pada masa Sultan al-Muzhaffar Abu Said Kaukabry bin Zainuddin Ali bin Baktakin (630 H), demi menghadapi bangsa Mongol maka beliau mengadakan perayaan Maulid yang tidak tanggung-tanggung yaitu selama 7 hari 7 malam berturut-berturut yg menghabiskan dana 300.00 dinar. Yusuf bin Qaz (cucu Abu Farj Ibnul Jauzi) dalam kitabnya “Mir’ah al-Zaman” menceritakan bahwasanya dalam setiap perayaan Maulid Nabi SAW., Raja Mudzaffar menyediakan hidangan 5000 potong kepala kambing bakar, 10.000 potong ayam, 100 kuda, 100.000 zabady, dan 30.000 piring yang berisi manisan. Hasilnya, dengan berkah dari Maulid Nabi SAW dan spirit yg dimiliki para pasukan Islam para Muslimin pun menang dan bisa mempertahankan wilayah serta merebut sebagian wilayah yang telah dikuasai oleh bangsa Mongol dalam kepemimpinan Jenghis Khan. Puncaknya, pada tahun 583 H/1187 M, para pasukan dibawah pimpinan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi bisa merebut kembali Baitul Maqdis dari cengkraman kaum salibis barat yang sudah mereka kuasai selama kurang lebih 90 tahun.

Diceritakan bahwa beliau Sultan Shalahuddin al-Ayyubi saat itu sedang susah dan bersedih karena melihat semangat kaum Muslimin melemah dan menurun sehingga mengakibatkan Baitul Maqdis berhasil dikuasai musuh. Kemudian beliau berinisiatif untuk memotifasi semangat juang kaum Muslimin dengan menumbuhkan dan mempertebal rasa cinta terhadap Nabi Muhammad SAW dengan cara mengadakan perayaan Maulid yang mana hal ini sudah sering dilakukan oleh ipar beliau Gubernur al-Muzhaffar, penguasa daerah Irbil-Irak. Kemudian pada tahun 579 H / 1183 H beliau memaklumatkan kepada para hujjaj (orang-orang yang sedang melaksanakan haji) agar nanti saat kembali ke daerahnya masing-masing mengumumkan bahwa semenjak tanggal 12 Rabi’ul Awwal 579 H itu ditetapkan sebagai hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Dan sebaiknya dirayakan dengan berbagai kegiatan yang positif menurut syar’i agar bisa memotifasi umat Islam seperti ittiba’/mengikuti perbuatan beliau Nabi SAW.

Lalu pada tahun 580 H/1184 M untuk pertama kalinya beliau mengadakan sayembara penulisan biografi/siroh Nabi Muhammad SAW, yang akhirnya Syaikh Ibnu Dihyah tampil sebagai pemenang. Ibnu Khalikan ketika menulis biografi al-Hafidz Abu Khattab Ibnu Dihyah berkata: “Ia (Ibnu Dihyah) adalah termasuk pembesar para ulama yang melalang buana, pergi ke Maghrib (Maroko), Syam (Suriah), Irak, dan kemudian menetap di Irbil tahun 604 H. Di sana ia mendapati raja daerah itu (Gubernur Mudzaffar) sedang merayakan Maulid Nabi, lantas ia pun menulis kitab “Al-Tanwîr fî Maulid al-Basyîr al-Nadzîr” dan membacanya di hadapan Sang Raja. Lantas Sang Gubernur memberinya hadiah sebesar 1000 dinar atas hal itu”. Sebenarnya semua kitab Maulid itu substansinya untuk menumbuhkan dan meningkatkan rasa cinta terhadap Nabi Muhammad SAW dengan bentuk siroh, pujian-pujian, dan lain-lain yang menceritakan akhlaq dan biografi beliau Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan itu memperoleh hasil yang sangat mencengangkan, dampak psikologisnya bisa mengangkat mental dan moral Umat Muslim untuk senantiasa survive dalam menghadapi non-muslim memperebutkan Baitul Maqdis sehingga pada tahun 583 H/1187 M Sultan Solahuddin al-Ayyubi serta pasukan muslim bisa merebut kembali Baitul Maqdis.

Berdasarkan pendapat-pendapat yang dipaparkan sebelumnya, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa perayaan Maulid Nabi seperti pembacaan Sholawat, syi’ir-syi’ir serta biografi Rosulullah SAW pada kitab Maulid al-Barzanji, ad-Diba’I, Burdah, dan lain-lain itu belum diselenggarakan pada masa Rosulullah SAW, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’it Tabi’in dan juga masa para Imam Madzhabi al-Arba’ah (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal). Perayaan Maulid Nabi baru dilaksanakan pada masa Mamalikul Islam (Kerajaan-Kerajaan Islam) sekitar abad ke-6/7 Hijriyah, yang mana saat itu firqoh-firqoh sesat berkembang. Namun menurut kami, meskipun para Sahabat tidak pernah melakukannya, itu karena mereka sudah cukup dengan bisa hidup berdampingan bersama Rosulullah SAW dengan meniru ahwal, melayani, mengabdi dan mengaji pada beliau. Pada masa Tabi’in, mereka disibukkan dengan jihad fi sabilillah, mengaji dan menghafal Al-Qur’an dan hadits pada para sahabat, dan sebagainya. Sedangkan pada masa Tabi’ut Tabi’in serta para Imam Madzhabi al-Arba’ah pun demikian, mereka disibukkan oleh rihlah mencari ilmu, berijtihad langsung dengan istinbatul ahkam, dan memperdalam hukum serta permasalahan fiqih, dan lain-lain. Wallahu a’lam.

Referensi :

– Mengamalkan Ajaran Syari’at dan Membenahi Adat Istiadat karya KH. M. Najih Maimoen.

– I’anathut Tholibin Juz 3 hal.364 (maktabah asy-syamilah).

– Lisanul Arab karya Ibnu Mandhûr (Kairo: Dar al-Hadis), vol. 9, hal. 398.

– Husnul Maqoshid fi ‘amalil Maulid karya Imam Suyuthi.

– Dhiya’utthullab karya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

– al-Arba’in an-Nawawi karya Imam An-Nawawi.

– Suara-nu.com, Meluruskan Sejarah : Perayaan Maulid Nabi Pertama Kali Oleh: Ust. Fawwas Khan

http://ppalanwar.com/index.php/news/830/42/Asal-Muasal-Perayaan-Maulid-Nabi-dalam-Islam.html

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: