Mathali’ul Falah Adakan “Seminar Sanitasi Lingkungan”

Seksi Kebersihan dan Kelengkapan, bekerjasama dengan Seksi Pendidikan Himpunan Siswa Mathali’ul Falah (HSM), pada hari Minggu, 26 Maret 2017, mengadakan acara “Seminar Sanitasi Lingkungan” yang diadakan di gedung Mathali’ul Falah Lil Banat, Kajen Margoyoso Pati, dengan tutor Bapak Faiz Aminuddin, MA., Ketua Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Institut Pesantren Mathali’ul Falah, beserta tim. Acara pagi itu dihadiri oleh Pembantu Direktur Bidang Kesiswaan, Bapak Ah. Subhan Salim, M. Ag. Diikuti oleh siswa PIM yang memenuhi ruangan, acara ini bertujuan untuk memberikan pengarahan tentang bagaimana menjaga lingkungan, bahkan mengolahnya menjadi sebuah barang yang mempunyai nilai jual.

Masih banyak para siswa dan santri yang kurang perhatian dengan sampah di sekitarnya. Di sini, tutor menjelaskan bagaimana mengolah sampah yang awalnya tak ada harganya menjadi bisa berguna dan mempunyai nilai jual. Mereka membawa contoh kardus bekas yang “disulap’ menjadi figura yang cantik. Para peserta pun diperlihatkan cara pembuatan bunga dari bahan-bahan bekas. Pun, dijelaskan juga bagaimana memanfaatkan gelas plastik air minum bekas untuk pot tanaman, mengubah bungkus sachet kopi menjadi kerajinan tas dan lainnya yang bernilai jual tinggi. Dan masih banyak materi yang disampaikan.

Konsep penyampaian materi yang dibawakan tutor dibuat senyaman mungkin. Peserta boleh bertanya di tengah penyampaian materi bila ada penjelasan yang kurang memahamkan. Dengan begitu, para peserta lebih aktif mengikuti.
Di akhir acara, para peserta diminta untuk membuat sebuah gagasan “dadakan” tentang pemanfaatan lingkungan. Akan diambil gagasan terbaik di antara para peserta dan diberikan hadiah berupa buku dari tutor. Akhirnya terpilih gagasan dari M. Khusnul Khitam (3 Aliyah), yakni membuat robot Gundam dari bungkus rokok, yang dalam penyampaian gagasannya tersebut, dijelaskan pula cara pembuatannya.

“Harapan adanya acara ini,” jelas Abdul Mannan Nashir D.H., Sekretaris HSM sekaligus moderator dalam acara tersebut, “Para peserta tidak hanya menjadi konsumen sebuah produk, namun juga menjadi pencipta karya dari barang-barang bekas di sekitarnya. Pun, lingkungannya terjaga.” (Muhamad Syafiq Syarofi)

Belajar Menjaga Lingkungan dalam “Seminar Sanitasi Lingkungan”

 

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: