RMINU Jawa Tengah Gerakkan PBPS

Blora,
Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah menggadakan Training Housekeeping Pesantren dalam rangka Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat (PBPS). Bertempat di aula pondok pesantren Khozinatul Ulum sebanyak 39 santriwan-santriwati dari pesantren Khozinatul Ulum, al-Muhammad, Sirojut Tholibin, Al-Hikmah, al-Huda dan Safinatun Najah selama 2 hari digodog untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dibidang kebersihan dan penataan lingkungan.
Pelatihan kali ini materi yang disampaikan antara lain; Urgensi Pesantrenku Bersih dan Pesantrenku Keren, Selangkah lebih maju membersihkan lingkungan metode ecofriendly, dan Praktik dan Teknis menyusun SOP menjaga kebersihan lingkungan. PBPS ini merupakan ikhtiar awal dari RMINU Jateng untuk menjadikan pesantren terlihat bersih dan sehat.

Peserta PBPS berfoto depan mobil branding (65)

Peserta PBPS berfoto depan aula pesantren Khozinatul Ulum, (6/5)

KH Abu Choir selaku PIC Tim pelaksana program PBPS menyatakan bahwa kebutuhan akan bersih dan sehat menjadi syarat penting yang harus terpenuhi sebelum memulai pembelajaran dan pendidikan. Pondok pesantren sebagai bagian lembaga pendidikan harus memberikan contoh dan teladan akan kebersihan dan kesehatan.

Tanggung jawab ini tak bisa dibebankan hanya kepada salah satu pihak saja, akan tetapi perlu menjadi komitmen semua elemen pesantren. Nilai kebersihan dan kesehatan harus dijunjung tinggi seluruh pihak di pesantren. Berdasarkan ilmu pengetahuan yang dikaji ttg fikih dan akhlak saat ini di pesantren, sudah seharusnya tampil dalam kehidupan santri pondok pesantren.
“Kesadaran untuk menjaga kebersihan harus menjadi mindset santri di pesantren agar image pesantren dapat berubah,” ungkap dosen IAIN Surakarta ini.
Penumbuhan kesadaran santri untuk berlaku hidup bersih dan sehat menjadi salah satu kunci penting. Hal ini untuk menjadikan pondok pesantren lebih bersih, sehat dan nyaman dalam rangka menunjang proses pembelajaran dan pendidikan yang efektif dan efesien.
Salah satu wujud menjadikan pondok pesantren bersih dan sehat dengan memberikan pemahaman kepada santri bahwa lingkungan pondok pesantren harus tetap terjaga kebersihannya. Hal ini membutuhkan pengetahuan yang cukup untuk memaparkan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan. Kemauan untuk berubah ini menjadi kepentingan bersama untuk mewujudkan pondok pesantren yang lebih baik.
PBPS ini merupakan rangkaian yang akan digelar di empat kota lain, Salatiga, (11-12/5), Kendal, (17-18/5), Pati, (23-24/5), dan Jepara, (25-26/5). Bagi pesantren yang ingin mengadakan kegiatan serupa bisa menghubungi 08122805726 (KH. Abu Choir, MA). (M. Zulfa/Fathoni)
Sumber: http://bit.ly/1ZpAP6G  NU Online

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *