Gus Rozin: MQK, Ajang Silaturahim Akademik Antarpesantren

Semarang, NU Online
Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) wilayah Jawa Tengah menggelar rapat koordinasi pertama di auditorium Kantor Wilayah Kementerian Jawa Tengah. Forum yang dihadiri masing-masing cabang dari kabupaten/kota se-Jawa Tengah ini juga membahas persiapan Pekan Olahraga dan Seni Pesantren Daerah (Pospeda) di Demak pada Mei dan Musabaqah Qiroatil Kitab (MQK) atau lomba baca kitab di Tegal pada November.

Perlombaan ini diadakan untuk menjaga agar kitab kuning sebagai tradisi intelektual Islam Nusantara tetap terjaga.  “MQK menjadi wahana untuk membangkitkan kita (santri dan pesantren, red) terhadap ghirah(semangat) penguasaan kitab kuning,” kata Ketua FKPP Jateng yang juga Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU (RMINU), KH Abdul Ghaffar Rozin, Senin (29/2).

Gus Rozien menyerahkan sticker Gerakan Ayo Mondok kepada pengurus cabang FKPP Semarang, ()

Gus Rozien menyerahkan sticker Gerakan Ayo Mondok kepada pengurus cabang FKPP Semarang, (23/5/15)

MQK juga dinilai sebagai ajang silaturahim akademik antarpesantren, wahana konsolidasi FKPP di wilayah masing-masing, dan bagian dari kontra-wacana dan kontra-gerakan terhadap paham radikal. Dalam dasawarsa terakhir pesantren diketahui mengalami perkembangan signifikan. Dari tahun 2005 terdapat 2.187 pesantren dengan jumlah santri 442.862 hingga 2015 terdapat 4.847 pesantren dengan 638.288.

“Musabaqah (perlombaan) ini bagian dari eksistensi pesantren salaf terhadap publik,” ujar Gus Rozin, sapaan akrab rektor Institut Pesantren Mathaliul Falah itu, yang juga mengingatkan pesantren untuk bersiap menyambut adanya Liga Santri Nusantara tahun ini.

Menurut Gus Rozin, pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia memiliki tanggung jawab dan peran strategis untuk mengambil bagian dalam menguatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kemanjuan peradaban Islam.

Rapat koordinasi FKPP kali ini dibuka langsung Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jateng H Sholikhin.

Jawa Tengah, tepatnya di Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Jepara, rencananya juga menjadi tuan rumah bagi gelaran MQK keenam tingkat nasional pada Oktober 2017. Berbagai upaya sedang dikerjakan mulai dari rekomendasi dari bupati Jepara,  ketua DPRD Jepara,  surat persetujuan gubernur dan ketua DPRD Jawa Tengah, hingga surat pengantar kesiapan dari kepala Kanwil Kemenag Jateng kepada MENTERI AGAMA RI tentang penyelenggara MQK nasional.

“Proses perizinan sedang kita usahakan di berbagai level,” ungkap Kepala Seksi Pondok Pesantren Kanwil Jateng, Mukhtasit. (M. Zulfa/Mahbib)

Sumber: NU Online.

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: