RMINU Jateng Jalin Kemitraan dengan Sulaimaniyyah Turki

Semarang,
Pengurus Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah menerima kunjungan dari pengasuh Pesantren Sulaimaniyyah Turki di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (26/12), Ustadz Ali Dede Al Hafidz.

Silaturahim ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan RMI Jawa Tengah ke pesantren Sulaimaniyah Turki di Jakarta 2 Desember lalu guna pengembangan pesantren di Jawa Tengah.

Ustadz Ali Dede (dua dari kiri) berada di tengah pengurus RMINU Jateng, (26/12)

Ustadz Ali Dede (dua dari kiri) berada di tengah pengurus RMINU Jateng, (26/12)

“Kita perlu belajar kepada pesantren Sulaimaniyah di antaranya pada manajemen tata ruang yang efektif, manajemen lingkungan dan kebersihan berbasis santri, dan tentu saja pada terobosan metode tahfidhnya,” kata Mandzur Labib, Sekretaris PW RMINU Jawa Tengah.

Pesantren Sulaimaniyah dinilai berhasil menyiasati tata ruang. Dengan jumlah luas tanah yang terbatas, pesantren ini bisa mewujudkan ruang yang berfungsi maksimal. Sulaimaniyah juga mampu menghadirkan sistem kebersihan yg baik dengan tetap melibatkan santri sebagaimana umumnya pesantren, bukan tenaga khusus. Sedangkan dalam metode tahfidh Sulaimaniyah memiliki metode khusus “Turki Usmani”.

“Kita bisa membuat tata ruang yang efektif dan efesien untuk pesantren yang kita miliki,” ungkap Abu Choir, anggota Departemen Pengembangan Ekonomi RMINU Jateng.

Menurutnya, tata ruang yang sedemikian rupa bisa menghemat biaya dan luas tanah. Sehingga, asumsi bahwa mendirikan pesantren harus memiliki tanah luas bisa bergeser dengan menejemen yang seperti ini.

“Kita juga sedang merencanakan untuk membuat gerakan pesantrenku bersih pesantrenku keren (PBPK),” tambah Abu Choir yang dipercaya RMINU Jateng menjadi ketua program PBPK.

Pengurus RMINU Jateng berharap, jalinan silaturahim yang baik dengan pesantren Sulaimaniyyah ini akan memperluas kerja sama di sektor lain. Ustadz Ali dengan tangan terbuka menyambut baik berbagai bentuk kerja sama dengan pesantren di bawah naungan RMINU Jateng.

Pesantren Sulaimaniyyah berada di bawah Yayasan Pusat Persatuan Islam di Indonesia atau United Islamic Cultural Center of Indonesia (UICCI). Pesantren Sulaimaniyyah yang berpusat di Turki ini telah memiliki cabang 6000 di dunia. Sementara di Indonesia telah lebih dari 22 cabang, mulai di Jakarta, Yogjakarta, Medan, Bogor, Bandung, Surabaya, Semarang, Aceh, Klaten, Sukabumi, Temanggung, dan Pangkalan Bun. (Zulfa/Mahbib)

Sumber: NU Online.

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: