Pesantren Maslakul Huda Kajen Adakan Pelatihan Menulis

Pati,
Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen Margoyoso Pati mengadakan pelatihan menulis bertempat di aula Pondok Pesantren, Jum’at (11/12). Dengan narasumber Khoirun Niam dari Ketua Komite Dewan Kesenian Pati. Pelatihan ini dikhususkan untuk penulisan cerpen dan puisi. Penulisan cerpen dan puisi tersebut dipilih sebab sebagian santri menyukai sastra.

“Rencana setelah pelatihan ini, para santri akan membuat sebuah antologi bersama baik cerpen atau pun puisi,” jelas Muhammad Wafa, Ketua Pondok Pesantren Maslakul Huda.

Sumber gambar: maslakulhuda.net

Tampak depan Pondok Pesantren Maslakul Huda

“Yang perlu dibutuhkan seorang penulis adalah konsisten dan pembiasaan dan suka membaca. Jika kita sudah terbiasa menulis maka suatu saat nanti akan menikmati hasilnya. Tak ada cara yang jlimet atau rumit dalam menulis, sebab menulis ya menulis,” ujar Khoirun Niam sebagai narasumber.

Lanjut Niam, puisi bisa dikatakan sebuah karya sastra yang sangat mudah ketimbang cerpen dan novel, karena puisi lahirnya dari hati dan perasaan. Apa yang kita rasakan dapat kita puisikan. Agar pembuatan diksi dalam puisi menjadi bagus dan indah maka sering-seringlah membaca karya puisi penyair terdahulu. Soal baik buruknya karya puisi kita biarlah para kritikus sastra yang menilai.

Acara dimulai pukul 08.00 WIB hingga 10.30 WIB, selain penjelasan secara materi para peserta pun disuruh praktik menulis puisi dan ke tiga puisi yang terbaik hasil seleksi narasumber akan di berikan buku secara gratis.

“Setiap saya mengisi acara, tidak pernah lupa untuk membagi-bagikan buku gratis kepada peserta hal tersebut saya lakukan sebagai salah satu strategi untuk memperjuangkan minat baca dan mendorong orang lain menyukai dunia menulis,” pungkas Niam. (Red: Fathoni)

 

Sumber: NU Online.

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: