RMINU Ciptakan Pusat Grosir di Pesantren

Semarang,
Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) melalui Bidang Kemandirian Pondok Pesantren dan Masyarakat mempertemukan para perwakilan dari 35 pondok pesantren se-Jawa Tengah dalam lokakarya kewirausahaan di Pondok Pesantren al-Itqon, Semarang, Jateng, Ahad (25/10).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan RMINU dalam menciptakan Pusat Grosir Pesantren (PGP) Nusantara, sebuah program yang memfasilitasi pesantren untuk mendapatkan barang dengan harga langsung dari produsen. Dengan memperpendek rantai distribusi barang, pesantren diharapkan menjadi pemain pasar, setidaknya sebagai distributor.

Dr. Abdul Jalil sedang memaparkan materi kepada peserta workshop (25/10)

Sekretaris Pengurus Pusat RMINU Miftah Faqih mengatakan, sejak 2011 pihaknya sudah menggulirkan pelatihan kewirausahaan. Hal ini terkait dengan pentingnya pesantren kuat dan mandiri secara ekonomi. “Ini kita ketemu dalam rangka untuk menyubjekkan diri, mem-fa‘il-kan diri. Sadar kalau lahir merdeka maka hidup harus merdeka,” tuturnya.

Hal sedana disampaikan Abdul Jalil, Koordinator Bidang Kemandirian Pondok Pesantren dan Masyarakat PP RMINU. Menurutnya, di setiap bisnis, pesantren sering hanya menjadi objek, mulai dari penanaman modal, produksi, hingga distribusi barang.

“Pendek kata, karena kita objek dan kesahalannya kita tidak mau menjadi subjek. Jalan satu-satunya yang bisa kita tempuh, kita harus menjadi subjek. Pesantren tidak boleh dimainkan pihak lain dalam bidang apapun,” ujarnya.

Peserta dalam forum ini adalah para pemangku kebijakan pondok pesantren. Hari ini mereka diminta menyerahkan nama-nama calon pengelola distribusi barang. Pengelola distribusi terdiri dari manajer, kepala gudang, dan admin atau kepala toko. Selanjutnya RMINU akan mengadakan pelatihan manajemen untuk mereka agar siap dengan program tersebut.

PGP Nusantara menggunakan sistem berbasis online yang teritegrasi. PGP di bawah RMINU akan memiliki dua kartu keanggotaan, kartu sebagai agen (memperoleh harga distributor untuk keperluan dijual kembali) dan kartu keanggotaan umum (harga retail). (Red: Mahbib)

Sumber: NU Online

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

1 Comment

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: