Alumni Pesantren Sarang dan Kajen Kembangkan Metode Baca Cepat Kitab Kuning

Demak,
Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Tengah mengadakan pelatihan metode membaca kitab secara cepat dengan metode Al-Ikhtishor dan Al-Lubab di aula Kemenag Demak, Selasa (7/10). Sebanyak 100 perwakilan dari pengurus pesantren dan madrasah diniyah takmiliyah sekabupaten Demak mengikuti pelatihan metode yang dikembangkan alumni pesantren Mathaliul Falah dan Al-Anwar Sarang ini.

“Metode cepat membaca kitab kuning banyak. Sudah ada empat metode yang kita (Kemenag Kanwil Provinsi Jawa Tengah-red) fasilitasi. Ada metode Amtsilati, Ibtida’i, Al-Lubab, dan Al-Ikhtisor. Ini merupakan solusi yang efektif bagi orang tua yang tidak punya banyak waktu untuk mendidik dan mengajari baca kitab anaknya,” kata Kepala Seksi Pondok Pesantren Kemenag Jawa Tengah Mukhtasit, Selasa (7/10).

Kiai Amin Fauzan Badri menyampaikan metode Al-Ikhtishor (7/10)

Kiai Amin Fauzan Badri menyampaikan metode Al-Ikhtishor (7/10)

Sejalan dengan itu, belakangan ini muncul banyak metode cepat agar bisa memahami kitab kuning. “Kalau dulu perlu belajar sampai 10 tahun di pesantren, kini satu bulan cukup untuk bisa membaca kitab kuning,” ujar Fakhrudin, pencetus metode Al-Lubab. Ini merupakan solusi atas minimnya waktu untuk mempelajari kitab kuning dengan panduan satu kitab Al-Lubab.

Untuk Al-Ikhtishor sudah ada memiliki manajemen untuk mengembangkan metode ini. Di bawah naungan KH Nur Kholis, metode Al-Ikhtishor sudah berjalan selama empat tahun. Hanya dengan waktu dua bulan dalam waktu lima puluh jam sudah bisa membaca kitab gundul. Dengan pengajaran satu jam tiap harinya.

“Kunci yang harus dipegang adalah tidak hanya hafal tapi teliti dan mau berpikir,” ungkap kiai Amin Fauzan Badri selaku penulis kitab Al-Ikhtishor.

Kitab ini merupakan teori yang dilanjutkan praktik. Seseorang yang ingin menguasai kitab kuning harus praktik 3-6 bulan untuk kitab yang berkategori mudah seperti Fathul Qorib, kitab fikih Tahrir untuk menengah dan sulit untuk kitab gundul secara umum.

Metode Al-Ikhtishor, ibarat pisau, semakin sering digunakan semakin tajam. Tinggal bagaimana kita menggunakan pisau ini untuk kebutuhan kita dalam memahami kitab sebagai sumber ilmu pengetahuan. Selain itu, Semua kalangan bisa menggunakan metode ini dengan syarat bisa baca tulis latin (bahasa Indonesia) dan Arab.

Kegiatan ini merupakan respon atas keprihatinan pendidikan diniyah yang tak banyak mendapatkan perhatian dari para orang tua. Terlebih setelah dikeluarkannya Surat Edaran (SE) No. 420/006752/2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Jateng untuk melaksanakan lima hari sekolah tingkat SMA/SMK.

Ini merupakan kekhawatiaran tersendiri bagi eksistensi pendidikan diniyah di provinsi Jawa Tengah. Pasalnya, selama ini pendidikan diniyah banyak dilakukan siang/sore hari. Maka ilmu-ilmu keagamaan akan banyak dilupakan. Itulah hal yang yang dikhawatirkan Sholihin, Kabid PD Pontren Kemenag  Jateng. (Zulfa/Alhafiz K)
Sumber: NU Online.

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

1 Comment

  1. Kiai Amin Fauzan Badrii mushonif kitab al-iktishor…
    Mas admin yg saya tanyakan Apa nama Pondok pesantrennya ..???
    Yg saya dpt dari info beliau tinggal di desa Brakas kecamatan Klambu, Grobokan Jateng…!!!
    Tp saya blm tau detail darii nama pondok.a dimana..!!!
    Mohon bantuannya min… Semoga saya bisa blajar dan nyantri kaleh baliau Al mukarrom abah Amin Fauzan Badri…amin

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: