Hari Santri 22 Oktober Melanjutkan Indonesia

[mks_dropcap style=”rounded” size=”45″ bg_color=”#81d742″ txt_color=”#ffffff”]S[/mks_dropcap]ejak beberapa tahun terakhir, kehendak untuk mengukuhkan Hari Santri secara nasional muncul di mana-mana. Di tingkat akar rumput, dengan berbagai cara ungkap dan salurannya, ada begitu banyak prakarsa yang mencerminkan kuatnya kehendak tersebut. Sementara pada tingkat nasional, wacana “Hari Santri” mengemuka pada banyak pernyataan tokoh, pejabat publik, forum diskusi, dan peliputan media massa.

Secara khusus, sejumlah Organisasi Masyarakat yang terhimpun dalam Lembaga Persaudaraan Ormas Islam (LPOI) bersama-sama menyepakati pentingnya pengukuhan Hari Santri. Dua belas ormas tersebut ialah Nahdlatul Ulama (NU), Syarikat Islam Indonesia (SII), Persatuan Islam (PERSIS), Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Mathlaul Anwar, Al-Ittihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ikatan Da’i Indonesia (IKADI), Azzikra, Al-Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyyah (PERTI), dan Persatuan Umat Islam (PUI). Beriringan dengan itu, TNI Angkatan Laut dan Kementrian Agama jua mengadakan persiapan untuk menyongsong peringatan Hari Santri.

20151005175104Mengapa Hari Santri?

Disepanjang jalur kesejarahannya, keutuhan Indonesia berkali-kali diuji. Dalam tiap ujian itu, santri selalu hadir menjaminkan diri untuk mengawal keutuhan tersebut. Jauh sebelum diproklamirkan, bagi santri, Indonesia atau Nusantara merupakan tanah-air yang wajib dibela. Tidak sempurna keimanan seseorang, hingga ia mencintai tanah-airnya. Kesadaran bertanah-air ini hidup melalui jaringan pengetahuan dan gerakan yang tersebar di seantero pulau dengan masjid, pondok pesantren dan tarekat sebagai simpul-simpul utamanya.

Dalam kenyataannya, santri adalah masyarakat Indonesia yang beragama Islam, bukan sekadar muslim yang kebetulan berada di Indonesia. Dengan pengertian ini, segala jenis usaha pembenturan santri terhadap kelompok-kelompok lain di negeri ini sudah pasti mentah. Kecintaan terhadap tanah-air selalu mengatasi sentimen kelompok.

Membela tanah-air berarti membela agama. Hal ini merupakan sesuatu yang secara spiritual diyakini, secara gagasan dipikirkan dan secara empiris dikerjakan. Kenyataan yang demikian ini terus-menerus meluas dalam ruang dan memanjang dalam waktu. Meluas dalam ruang sebab kesadaran bertanah-air diungkapkan di banyak tempat dengan ekspresi yang sangat beragam. Memanjang dalam waktu sebab terdapat mata-rantai pengetahuan dan tradisi yang terus-menerus bersambung.

Hari Santri perlu dikukuhkan dan diperingati sekurang-kurangnya karena dua alasan. Pertama, sebagai penghormatan atas jasa pahlawan. Pengakuan semacam ini penting bagi generasi sekarang agar tidak tercerabut dari kampung halaman sejarahnya. Kedua, sebagai pembangkit patriotisme. Ini relevan sebab sejumlah gagasan yang belakangan bermunculan di Indonesia tidak banyak yang sungguh-sungguh memiliki komitmen keindonesiaan.

20151006053707

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat konferensi pers Kirab Hari Santri Nasional, Selasa (6/10), di kantor PBNU Jakarta.

Mengapa 22 Oktober?

Hari Santri bukan sebatas hari orang Islam. Hari Santri ialah hari orang Indonesia yang beragama Islam. Karenanya, Hari Santri bukan sejenis hari raya yang bisa diperingati secara universal di seluruh dunia. Sudah semestinya momen yang dipilih merepresentasikan substansi kesantrian, yakni spiritualitas dan patriotisme. Dalam konteks global ini merupakan anugerah yang belum tentu dimiliki umat Islam di belahan bumi lain.

Dari sejumlah aspirasi yang berkembang selama ini, tanggal 22 Oktober 1945 merupakan pilihan yang paling mewakili substansi tersebut. Inilah tanggal ketika Mahaguru Kyai Hasyim Asy’ari mengumumkan fatwanya yang masyhur disebut sebagai Resolusi Jihad.

Resolusi Jihad lahir melalui musyawarah ratusan kyai-kyai dari berbagai daerah di Indonesia untuk merespon agresi Belanda yang kedua. Resolusi Jihad memuat seruan-seruan penting yang memungkinkan Indonesia tetap bertahan dan berdaulat sebagai negara dan bangsa. Fatwa ini menyerukan bahwa setiap muslim wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia, pejuang yang mati dalam medan perang kemerdekaan disebut syuhada dan warga negara Indonesia yang memihak penjajah dianggap sebagai pemecah belah persatuan dan harus dihukum mati.

Dalam situasi kritis dan darurat, mempertahankan kemerdekaan tanah-air bernilai fardhu ‘ain (wajib secara perseorangan) dan kehilangan nyawa akibat daripadanya merupakan syahid. Berbeda dengan pihak-pihak yang menggunakan doktrin jihad sebagai dasar aksi teror, jihad dalam keyakinan santri menyatu dengan kesadaran bertanah-air. Tanah-air bagi santri adalah urusan hidup-mati. Kutipan berikut menunjukkan bagaimana spiritualitas dan patriotisme hadir dalam rumusan yang padu dan menggugah:

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkarang 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…”

Fatwa ini selama berpuluh-puluh tahun kemudian tetap segar dan hidup dalam ingatan kolektif banyak orang di berbagai penjuru Indonesia. Ini bukan sesuatu yang mengherankan. Sebab dilihat sebagai kurva peristiwa, Resolisi Jihad memang mengakar pada mata rantai perjuangan yang panjang dan menggerakkan begitu banyak kekuatan rakyat. Penelitian sejarah atas peristiwa ini memperlihatkan bahwa, dari segi substansi dan jaringan gerakan, Resolusi Jihad bisa ditarik jauh hingga masa perang Jawa seabad sebelumnya. Pada kronika berikutnya, Resolusi Jihad menjadi preseden yang memungkinkan rentetan peristiwa monumental lain. 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan merupakan lanjutan peristiwa 22 Oktober. Dalam takaran akal sehat, bahkan sulit membayangkan proklamasi 17 Agustus 1945 bisa diselenggarakan andai tidak ada Resolusi Jihad.

Hari Santri adalah penanda dengan spiritualitas dan patriotism sebagai acuan maknanya. Maka, mengukuhkan 22 Oktober sebagai Hari Santri ialah usaha menyambung sejarah, ialah ikhtiar melanjutkan Indonesia.

 

Rilis konferensi pers Kirab Hari Santri Nasional 22 Oktober Resolusi Jihad NU.

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: