SMK NU Lasem Wajibkan Mondok Bagi Siswa Baru Tahun Ini

Rembang,
Sekolah Menengah Kejuruan Nahdlatul Ulama (SMK NU) Lasem kabupaten Rembang meminta seluruh siswa baru per tahun ini untuk mondok di pesantren. Instruksi Kepala SMK NU Lasem Arif Demyati berkenaan dengan tindak lanjut program Kemenag yang mulai mengedepankan pendidikan karakter pelajar.

Menurut Arif Demyati, perbedaan yang sangat mencolok di antara siswa mondok dengan yang tidak mondok membuat dirinya mewajibkan siswa tahun ajaran baru sejak 1 Oktober 2015 kemarin.
Santri-Untuk-Negeri-PBSB“Perbedaan karakter siswa yang nyantri dengan yang tidak nyantri, mulai cara berbicara, salaman, serta tata krama kepada yang lebih tua menjadi tolak ukur karakter para siswa hal ini yang membuat kami untuk menjalankan program bagi siswa ajaran baru tahun 2015 harus mondok di pesantren,” kata Arif kepada NU Online, Senin (5/10).

Arif Demyati juga sedikit menyampaikan secara rinci, tahun ini di SMK NU sudah ada 120 siswa baru yang sudah mondok saat mendaftar di SMK NU. Sedangkan 160 sisanya direkomendasikan untuk mondok di pesantran yang ada di kecamatan Lasem.

“Tahun ini ada 120 siswa memang yang sudah mondok, dan sisanya ada 160 yang kita wajibkan untuk masuk dipondok pesantren. Dan rata-rata siswa yang ada di SMK NU Lasem merupakan kalangan pondok pesantren yang ada di Lasem.”

Kebijakan untuk mewajibkan siswa tahun ajaran baru 2015 untuk mendok disambut baik kalangan wali siswa. Mereka sangat mendukung generasi muda untuk mondok melalui kebijakan yang dicanangkan sekolah. SMK NU bekerja sama dengan 16 pondok pesantren yang di kelola oleh kiai Nahdlatul Ulama.

Dari jumlah 22 pondok yang ada di Lasem hanya 16 pesantren yang dapat menampung calon santri dari SMK NU. Sedangkan sisanya sebagian dikarenakan kuota penuh, dan sebagian dikarenakan merupakan pondok tahfidz. Rata-rata setiap pondok menerima calon santri antara 20-25 saja, itupun merupakan jatah pembagian dari sekolah.

Arif Demyati juga membuat kebijakan, jika calon santri merasa tidak betah di pesantren yang direkomendasikan oleh sekolah dikarenakan faktor tertentu, pihaknya mempersilakan untuk berpindah di pesantren yang lain sesuai keinginan. (Ahmad Asmu’i/Alhafiz k)

Sumber: NU Online.

 

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: