Menziarahi Katalog Naskah Nusantara

Oleh: Munawir Aziz*

Sejarah Nusantara mencatat denyut peradaban kerajaan-kerajaan dan kehidupan pesantren yang berlangsung dalam kisaran puluhan abad silam. Interaksi antar kerajaan, pola kekuasaan hingga dinamika pengetahuan yang berada di dalamnya, menghasilkan jejak peradaban yang luar biasa. Jejak peradaban ini, dapat dilacak dari arsitektur, seni tradisi, kuliner dan naskah-serat yang menjadi simbol pengetahuan. Dari rangkaian silang kuasa antar kerajaan, tersalin naskah-naskah penting yang mewarnai ide tentang kebudayaan dan keagamaan.

Begitu pula, dengan tradisi panjang ulama Nusantara, yang berada di titik kuasa kerajaan dan pergumulan pengetahuan pesantren. Ulama-ulama Nusantara membangun hubungan dengan ulama Hijaz (Arab), Cairo (Mesir), Hadramaut (Yaman), Istanbul (Turkey) bahkan sampai Romawi. Tradisi pengetahuan dan interaksi kebudayaan inilah yang melahirkan ribuan naskah-naskah di seluruh titik kebudayaan Nusantara.

Naskah Kakawin Arjuna Wiwaha, karya Empu Kanwa, Abad XI, ditoreh pada Lontar dengan huruf Bali Kuno

Naskah Kakawin Arjuna Wiwaha, karya Empu Kanwa, Abad XI, ditoreh pada Lontar dengan huruf Bali Kuno

Ketika mengunjungi perpustakaan di kampus-kampus Eropa: Jerman, Prancis dan Belanda, penulis tertegun melihat ribuan naskah yang terkoleksi dengan rapi dalam sistem elektronik perpustakaan. Naskah-naskah tersebut menjadi nutrisi bagi peneliti-peneliti yang hendak melakukan riset dalam lingkup studi Islamic Studies maupun studi Asia Tenggara.

Namun, bagaimana melacak naskah-naskah yang dihasilkan dari peradaban besar Nusantara? Akankah jejak peradaban itu hanya mitos? Tentu saja tidak!. Naskah-naskah yang dihasilkan oleh pujangga keraton maupun ulama pesantren masih dapat ditemukan, dipelajari dan dikaji lebih lanjut. Akan tetapi, memang butuh kerja keras untuk menemukan naskah itu, mengetahui konteks sosialnya, membaca huruf dan simbolnya, lalu menautkan dengan tradisi pengetahuan masa kini. Harus ada upaya serius untuk mengkaji dan menelisik naskah-naskah pujangga dan ulama Nusantara.

Keilmuan lintas disiplin—filologi, arkeologi, antrophologi, sosilogi dan sejarah—hanya menjadi alat untuk menziarahi jejak peradaban ini. Masih dibutuhkan kerja inter-disipliner agar simbol-simbol dan tradisi pengetahuan yang termaktub dalam naskah-naskah Nusantara dapat terkuak.

 

Menyusuri Katalog Manuskrip
Lalu, bagaimana cara untuk menziarahi naskah-naskah Nusantara yang tersebar di pelbagai perpustakaan dunia? Penelusuran lewat katalog induk naskah manuskrip menjadi alat utama untuk melacak, memetakan dan menggali naskah-naskah yang tersimpan di gerbang pustaka dunia. Perpustakaan Library Congres di Amerika, British Museum (Inggris), perpustakaan EHESS (Paris), Perpustakaan KITLV—yang kini tergabung dengan Leiden University—di Belanda, serta rumah pustaka kerajaan-kerajaan Nusantara masih menyimpan misteri serta harta karun yang perlu digali untuk dipelajari.

Perpustakaan Keraton Yogyakarta, Surakarta, Banten, Cirebon, Bima dan jejak peradaban Aceh menjadi titik simpul yang mengisahkan lintas pengetahuan Nusantara. Silang kebudayaan antara Pasai dan Ottoman melahirkan manuskrip, surat-surat dan kitab-kitab penting yang menandai peradaban di selat Melaka. Dari perjumpaan inilah, kemudian menyebar jaringan politik dan pengetahuan Ottoman di seluruh Nusantara.

Untuk melacak naskah-naskah dengan pelbagai bahasa Nusantara—Aceh, Jawa, Pegon, Madura, dan Serang—diperlukan katalog sebagai jendela naskah. Katalog-katalog yang disusun oleh peneliti inilah, yang menjadi gerbang awal untuk melihat timbunan harta karun dalam dunia manuskrip pujangga dan ulama nusantara.

Karya Nancy K Florida, dalam tiga jilid penting terbitan Cornell University Press, membabar tentang sejarah naskah Keraton Surakarta: Javanese literature in Surakarta manuscripts; Introduction and manuscripts of the Karaton Surakarta (1993), Javanese Literature in Surakarta Manuscripts: Manuscripts of the Mangkunegaran Palace (2000), Javanese Literature in Surakarta Manuscripts: Manuscripts of the Radya Pustaka Museum and the Hardjonagaran Library (2012). Juga, karya utamanya yang dianggit sebagai proyek akademik: Writing the Past, Inscribing the Future: History as Prophesy in Colonial Java (1995). Kontribusi Nancy Florida inilah yang menjadi pintu bagi peneliti-peneliti lain, untuk mendedah lebih mendalam tentang karya-karya di pusat peradaban Jawa.

Selain katalog tentang manuskrip Surakarta, katalog-katalog yang menjadi rujukan koleksi manuskrip nusantara dapat dilacak dalam peta naskah garapan filolog. Sebagian dari karya itu, merupakan proyeksi bersama antara studi akademik dan upaya pelestarian naskah. Koleksi naskah dapat dilacak dalam beberapa katalog yang disunting peneliti: T.E Berhend dan Titik Pudjiastuti, Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara (1995); Achadiati Ikram, Katalog Naskah Buton, Koleksi Abdul Mulku Zahari (2002); Sri Ratna Saktimulya, Katalog Naskah Perpustakaan Pura Pakualaman (2005); Titik Pujiastuti, dalam karya Perang, Dagang dan Persahabatan: Surat-Surat Sultan Banten (2007); Oman Fathurrahman dan Toru Aoyama, Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar (2010); dan Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia, garapan duet Oman Fathurrahman dan Henri Chambert-Loir (1999).

Tentu, dari larik katalog yang menyimpan memori naskah Nusantara, masih tercecer ribuan naskah yang belum dapat dilacak. Naskah-naskah pesantren masih belum terkumpul dalam jendela katalog yang utuh. Padahal, ada ribuan naskah ulama Nusantara yang menghimpun pengetahuan dalam kitab-kitab dan mengajarkannya melalui sistem ngaji sorogan-bandongan di pesantren.
Naskah Nusantara masih banyak yang terkubur dalam misteri. Anda—dan saya tentu saja—yang wajib menggalinya.

 

*Munawir Aziz. Koordinator Divisi Media RMI-NU Jawa Tengah, Alumnus Pascasarjana UGM.

Bisa juga dibaca di Koran Jawa Pos edisi Desember 2013.

Sumber gambar http://www.wacananusantara.org/ragam-dan-unsur-spiritualitas-pada-ilustrasi-naskah-nusantara-1800-1900-an/

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: