Kiai Ubed: Kewajiban Perang Bila Ada Ilat

Semarang, pendoktrinan pemahaman radikal dan penyesatan sudah digencarkan pada siswa-siswi yang duduk di bangku sekolah. Para calon penganten (teroris, red) dicekoki ayat-ayat tentang perang sehingga membentuk mainstream yang ekstrim. Tentunya ini sangat berbahaya.Banner RMIHal ini disampaikan KH. Ubaidullah Shodaqah dalam Ngaji Bareng RMI Jateng dengan tema “Tafsir Ayat-Ayat Qital” yang diselenggarakan Pengurus Wilayah (PW) Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama Jateng pada Rabu (08/04/2015). Menurutnya, dalam memahami ayat ayat-ayat qital, kita harus tahu alasan (ilat) diwajibkannya perang (qital) dalam ayat tersebut agar tidak menimbulkan paham yang salah. Ketika ditemukannya ilat-ilat tersebut maka baru berkewajiban berperang. Ilat yang menimbulkan wajibnya qital adalah al-harabah, yakni peperangan terjadi kalau orang kafir memulai peperangan dan membahayakan kaum muslimin.

Selain lil harabah, ‘ilat lain wajibnya perang adalah rusaknya perjanjian yang disepakati kaum muslimin dan orang-orang kafir, tuturnya. Pada saat itu orang-orang kafir telah merusak janji yang telah disepakati bersama.

“Jadi kalau tidak adanya dua hal tersebut, maka bagi kaum muslimin tidak ada kewajiban berperang”, terang kiai yang menjabat rois syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah ini. (Iin Sholihin/Zulfa)

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: