Revitalisasi Model Dakwah

Oleh: Anasom *

Pemkab Demak bersama Perhimpunan Pemangku Makam Aulia (PPMA) se-Jawa akan menggelar ’’Mahrojan Wali Jawi’’ pada 22 Februari 2014, didahului beberapa kegiatan. Mahrojan, menurut KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), penggagas acara itu, memiliki arti festival atau perayaan guna merevitalisasi gerakan awal dakwah Walisongo.

Kegiatan itu mengusung tema,’’ Menapak Jejak Aulia, Meneladani Kearifan Mengajak’’, tema yang pas untuk merefleksi sejarah dakwah para wali tersebut. Mencermati dakwah awal yang dilakukan oleh para ulama di Jawa tersebut, tampak sekali pendekatan strategi kebudayaan sangat mendominasi.

Gambar Gunungan Wali Sanga

Gambar Gunungan Wali Sanga

Strategi dakwah kebudayaan yang dilakukan selaras dengan prinsip dakwah mengubah masyarakat dengan menyertakan masyarakat sebagai subjek dakwah. Pola ini sangat berbeda dari yang berkembang akhir-akhir ini, yang memosisikan masyarakat sebagai objek dakwah, yang menunggu ajakan para dai.

Kearifan mengajak kepada Islam memang harus terus digelorakan pada tiap generasi, karena mengajak kepada kebaikan merupakan esensi ajaran Islam. Generasi yang mampu meniru pola dakwah Rasulullah, dan terbukti sukses mengajak masyarakat kepada Islam adalah para wali di Jawa tersebut.

Dalam berdakwah, Walisongo memilih cara yang santun, bijak, dan penuh hikmah. Dalam memandu masyarakat menuju Islam misalnya, para wali menerapkan strategi mengintegrasikan semua potensi dakwah untuk mengarahkan potensi yang ada di masyarakat. Strategi dakwah wali meliputi hampir semua aspek kebudayaan universal.

Kita bisa melihat semua unsur universal kebudayaan tersentuh, semisal sistem religi dan upacara keagamaan, pengetahuan, bahasa, kesenian, mata pencaharian hidup, teknologi dan peralatan. Hasil proses dakwah dengan pendekatan kebudayaan tersebut tampak pada hasil-hasilnya pada peninggalan mereka.

Widji Saksono menjelaskan tiap wali ternyata mempunyai tugas khusus. Sunan Ampel misalnya, bertugas menyusun aturan syariat Islam. Sunan Gresik mengubah pola dan motif batik, lurik, dan perlengkapan kuda. Sunan Maja Agung menyempurnakan masakan, makanan, usaha, dan peralatan pertanian, serta barang pecah belah.

Adapun Sunan Gunung Jati memperbaiki doa mantra (pengobatan batin), firasat, jampi-jampi (pengobatan lahir) dan hal-hal yang berkenaan dengan urusan pembukaan hutan, transmigrasi atau pun pembangunan desa baru. Sunan Giri menyusun peraturan tata kerajaan, tata istana, aturan protokoler kerajaan di Jawa, mengubah perhitungan bulan/ tahun, dan memulai pembuatan kertas. Sunan Bonang menciptakan gamelan, lagu, dan lagu. Sunan Drajat mengubah bentuk rumah, alat angkut (tandu, joli).

Sunan Kalijaga berkreasi pada lagu, langgam, nyanyian, serta gending sebagaimana Sunan Bonang. Sunan Kudus mengubah bentuk persenjataan, peralatan tukang besi dan perajin emas, serta menciptakan pedoman perundang-undangan bagi masyarakat Jawa. Sunan Muria di antaranya menciptakan tembang Sinom, Kinanti, dan berdakwah mendekati petani.

 

Mengakar Kuat

Apakah pola dakwah yang dilakukan para wali masih relevan hingga sekarang? Dalam berbagai diskusi tentang dakwah, memang terjadi perdebatan. Di antara pandangan tersebut menyebutkan pola dakwah tersebut terlalu lamban, masyarakat tidak segera sampai kepada Islam secara benar (Islam dalam perspektif).

Namun pandangan lain menyebutkan bahwa proses dakwah yang dilakukan para wali tersebut menjadi penting dan masih relevan. Model dakwah itu bisa membuat Islam lebih mengakar kuat di dalam masyarakat, karena Islam tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, kegiatan ’’Mahrojan Wali Jawi’’ yang pada puncak acaranya akan mendiskusikan tentang strategi dakwah bersama Gus Mus, Agus Sunyoto, Prof Dr Kacung Marijan dan Prof Dr Azyumardi Azra menjadi sangat penting. Kita berharap kegiatan tersebut bisa makin mengokohkan pola dakwah yang pas untuk masyarakat saat ini.

* Drs H Anasom MHum, Sekjen Asosiasi Profesi Dakwah Islam (APDI), dosen Islam dan Budaya Jawa IAIN Walisongo Semarang.

Bisa juga dibaca di http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/02/20/253148

Sumber gambar: http://www.tropenmuseum.com/-/MUS/28398/Tropenmuseum/Gunungan-Wali-Sanga.jpg

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: