Lima Tahun Kedepan Indonesia Bagian ISIS

Semarang, (25/3) pembahasan (ISIS) menjadi menghangat setelah 16 WNI tertangkap pemerintah Turki. Wakil ketua umum PBNU, Dr. KH As’ad Said Ali menjadi pembicara pertama dalam seminar nasional yang diadakan oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) Universitas Islam Negeri Walisongo. Beliau mengawali dengan membacakan pernyataan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika diminta menjadi narasumber diskusi di koran terbesar di Jepang bahkan di dunia dengan oplah dua juta per hari saat itu. Selain Gus Dur sebagai perwakilan Islam ada Samuel Philip Huntington.

Anda (Huntington) ini ahli dalam membedakan pohon Kristen, Yahudi dan Islam. Anda sampai kesimpulan tentang clash of civilization, tetapi mungkin ada baiknya sekali-kali melihat hutan secara keseluruhan jangan hanya pohon-pohonnya. Dalam konteks kaum muslimin memang ada kaum muslimin yang berbeda dengan barat ini yang anda angkat menjadi clash of civilization. Padahal mereka bukan hanya itu. Apakah anda tidak melihat ratusan ribu anak muda muslim yang belajar di negara teknologi maju. Padahal mereka tidak hanya mempelajari teknologi dan pengetahuan modern tapi juga budayanya. Mereka setelah pulang, seperti saya ini (Gus Dur) menjadi seperti orang barat memakai dasi, jas dan sepatu tetapi jangan dianggap saya ini orang barat. Tetapi saya tidak pernah meminum alkohol setetes pun, saya tidak memakan daging anjing dan daging babi saya juga tidak pernah berhubungan seksual di luar pernikahan (zina). (cuplikan Budi Munawar Rahman, Pusad, Jakarta: 2015 halaman 136)

Kiai As’ad menyampaikan materi seminar nasional, (253)

Kiai As’ad menyampaikan materi seminar nasional di UIN Walisongo, (25/3)

“Dari pernyataan Gus Dur ini kita anggap doktrin atau kesimpulan Huntington ini tak pernah ada, karena dia melihat Islam seperti yang radikal Al-Qaeda dan Islamic State of Iraq and Syiria ISIS yang seperti kita tidak dilihat. Mestinya dia harus tahu bahwa yang terbesar NU di dunia ini sekarang dari Afghanistan (baca: Majelis Ulama Afghanistan) bahkan akan bertambah besar karena sama dalam hal ideologi,” ungkap kiai yang mendapatkan doktor honouris causa dari Universitas Diponegoro ini.

ISIS dalam jangka dua tahun semenjak 2014 memproyeksikan pengaruhnya di seluruh Timur Tengah, Turki/Balkan dan Afrika Tengah/Barat. Dalam periode lima tahun, pengaruhnya merambah ke Asia Selatan, Asia Tengah dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. “Mimpinya seperti itu, tapi kalau kita diam itu bisa terjadi. Saya pikir itu kita tidak akan diam, karena kita adalah penerus ajaran para wali,” papar kiai As’ad.

Kita sebagai kalangan mayoritas penganut madzhab moderat dan toleran (baca: islam rahmatal lil alamin) belum memiliki konsep sistem politik pasca runtuhnya Turki Usmani (1924).  Muncul berbagai perdebatan untuk menggantikan konsep kekhalifahan Turki Usmani ini, muncul berbagai konsep diantaranya adalah negara bangsa. Menurut kiai As’ad ada dua negara yang telah melakukan eksperimen politik yang cukup berhasil yakni model Arab Saudi dan model Indonesia. Kedua model ini berbeda dengan Barat dalam memisahkan agama dan negara namun, memiliki kesamaan bahwa negara dan agama berperan berbeda dengan prinsip agama memberi landasan moral atau nilai. “Indonesia dengan negara moralitas agama, bukan negara agama bukan pula negara Islam bisa dikatakan negara Islam dikurangi dengan hudud (hukum kriminal),” tandas Kiai As’ad. Bila menilik sistem politik Arab Saudi hanya cocok untuk negara itu sendiri tetapi sulit diterapkan di negara lain. Berbeda dengan kita yang memiliki Pancasila lebih mudah ditiru negara muslim yang multikultur sebut Afghanistan (sekarang memiliki NU baca: Majelis Ulama Afghanistan). Dengan kata lain pola pikir dan akhlaq ala NU atau Islam Nusantara menjadi alternatif bagi kalangan umat Islam.  (M. Zulfa)

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: