Pondok Pesantren Dalam Perspektif Kesehatan

Oleh: KH M Yusuf Chudlori*

Sejarah Pesantren

[mks_dropcap style=”rounded” size=”45″ bg_color=”#81d742″ txt_color=”#ffffff”]P[/mks_dropcap]esantren, pondok pesantren, atau sering disingkat pondok atau ponpes, adalah sebuah asrama pendidikan tradisional, di mana para siswanya semua tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri tersebut berada dalam kompleks yang juga ada fasilitas mushala untuk beribadah, ruang untuk belajar.

Umumnya, pondok pesantren berawal dari adanya seorang kiai di suatu tempat, kemudian datang santri yang ingin belajar agama kepadanya. Diawali dari beberapa santri datang ke kiai untuk belajar agama. Mereka menempati rumah kiainya, diberi satu dua kamar untuk tidur, kemudian ruang belajar mengajarnya di ruang tamu.

KH Yusuf Chudhori menyampaikan materi pada rakord TB di Pondok Pesantren (19/3)

KH Yusuf Chudhori menyampaikan materi pada rakord TB di Pondok Pesantren (19/3)

Dibangunnya pondok pesantren bukan seperti sekolah formal yang dibangun gedungnya dulu kemudian ditempati. Ketika santri semakin banyak barulah timbul inisiatif untuk mendirikan asrama di lingkungan rumah kiai. Seorang kiai tidaklah berfikir bagaimana membangun fasilitas yang memadai untuk para santrinya, tapi lebih mengajarkan tentang kesederhanaan dalam menuntut ilmu. Tidur beralaskan tikar, dengan fasilitas MCK yang minim, makan ala kadarnya.

Ketika zaman Walisongo begitulah yang terjadi, rumah kiai dikelilingi gubug-gubug dan kamar-kamar atau rumah sederhana untuk tinggal para santri. Seiring dengan perkembangan zaman pondok pesantren ini menjadi satu-satunya pendidikan saat itu dan mulai berkembang pesat sejak 1596.

Pondok pesantren dianggap menjadi pendidikan asli Nusantara yang keberadaannya sudah ada sebelum munculnya sekolah formal yang didirikan oleh penjajah. Hingga kini keberadaan pondok pesantren tetap dipertahankan, dengan segala tradisi dan kultur yang melekat seperti zaman dahulu meski sekarang zaman berubah modern. Pesantren yang mempertahankan tradisi dan kultur ini kemudian populer dengan sebutan Pondok Pesantren Salaf. Dengan seiring kebutuhan masyarakat sekarang ini juga banyak tumbuh pesantren modern, yang menempati gedung bagus dan sanitasi yang layak.

 

Kesehatan di Pesantren

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang ada di Indonesia yang mempunyai kultur, metode dan jaringan yang unik. Pesantren sebagai tempat pendidikan agama memiliki basis sosial yang jelas karena keberadaannya menyatu dengan masyarakat. Sebagai lembaga nirlaba, pada umumnya pesantren hidup dari oleh dan untuk masyarakat. Visi ini menuntut adanya peran fungsi pondok pesantren yang sejalan dengan situasi dan kondisi masyarakat, bangsa negara yang terus berkembang.

[mks_pullquote align=”right” width=”250″ size=”20″ bg_color=”#000000″ txt_color=”#ffffff”]Kesadaran menitipkan anaknya menuntut ilmu di Pondok Pesantren sekarang ini tergolong cukup tinggi. Bahkan ada kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun, baik itu di Pesantren Salaf atau Modern. Ternyata masyarakat sekarang banyak yang percaya kepada pesantren untuk mendidik mental kejiwaan anak-anak mereka, dari pada sekolah formal.[/mks_pullquote]Sementara sebagai komunitas pesantren dapat berperan menjadi penggerak bagi upaya kesejahteraan masyarakat mengingat pesantren merupakan kekuatan sosial yang jumlahnya cukup besar. Dilihat dari sisi kesehatan, kami membagi menjadi dua, yaitu kesehatan fisik dan kesehatan jiwa. Dalam persoalan kesehatan fisik, pesantren masih memiliki banyak kelemahan mulai dari aspek akses pelayanan kesehatan, perilaku hidup sehat maupun kesehatan lingkungannya.

Namun dari sisi aspek kesehatan jiwa, para santri memiliki kesadaran yang tinggi dalam peningkatan kesehatan jiwa, melalui kegiatan rutin spiritual mujahadah dan shalat malam juga berbagai kegiatan penggemblengan kejiwaan lainnya.

Santri umumnya adalah anak-anak dan remaja yang masuk kategori usia produktif, rentang usia 13 hingga 25 tahun. Kondisi sekarang ini remaja rentan sekali dengan rusaknya mental spiritual mereka sehingga mengarah pada kenakalan remaja, mulai dari penggunaan narkoba hingga free sex dan penularan HIV AIDS.

Melalui pembinaan kesehatan mental kejiwaan sejak dini, para santri terbentengi untuk kasus kenakalan remaja, narkoba dan penularan HIV AIDS. Karena begitu ketatnya aturan yang diberlakukan di pesantren, misalnya, jangankan pacaran untuk kirim surat kepada lawan jenis saja akan menerima sanksi yang berat hingga dikeluarkan dari pesantren.

Kesadaran menitipkan anaknya menuntut ilmu di Pondok Pesantren sekarang ini tergolong cukup tinggi. Bahkan ada kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun, baik itu di Pesantren Salaf atau Modern. Ternyata masyarakat sekarang banyak yang percaya kepada pesantren untuk mendidik mental kejiwaan anak-anak mereka, dari pada sekolah formal.

Untuk memahami sebuah studi kasus ‘’Kesehatan dalam Perspektif Pondok Pesantren’’ mengambil contoh di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang. API Tegalrejo Magelang ada dua Pondok Pesantren, yaitu Pondok Salaf yang masih menjaga tradisi dan kultur dan Pondok Modern. Kedua-duanya berada di Kawasan Tegalrejo dengan tempat dan sistem yang berbeda.

 

Profil Pondok Pesantren API Tegalrejo

 Pondok API Tegalrejo didirikan pada tanggal 15 September 1944 oleh KH. Chudlori, seorang ulama yang juga berasal dari desa Tegalrejo. Beliau adalah menantu dari Mbah Dalhar (KH. Nahrowi) pengasuh Pondok Pesantren Darus Salam Watucongol Muntilan Magelang. Simbah Chudlori mendirikan Pondok Pesantren di Tegalrejo pada awalnya tanpa memberikan nama sebagaimana layaknya Pondok Pesantren yang lain.

Baru setelah berkali-kali beliau mendapatkan saran dan usulan dari rekan seperjuangannya pada tahun 1947 di tetapkanlah nama Asrama Perguruan Islam (API). Nama ini ditentukannya sendiri yang tentunya merupakan hasil dari shalat Istikharoh. Dengan lahirnya nama Asrama Perguruan Islam, beliau berharap agar para santrinya kelak di masyarakat mampu dan mau menjadi guru yang mengajarkan dan mengembangkan syariat-syariat Islam.

??????????Adapun yang melatar belakangi berdirinya Asrama Perguruan Islam adalah adanya semangat jihad menegakkan agama Allah yang mengkristal dalam jiwa sang pendiri itu sendiri. Dimana kondisi masyarakat Tegalrejo pada waktu itu masih banyak yang berlumuran dengan perbuatan-perbuatan syirik dan antipati enggan tata nilai sosial yang Islami.

Respon masyarakat Tegalrejo atas didirikannya Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo pada waktu itu sangat memprihatinkan. Karena pada saat itu masyarakat masih kental dengan aliran kejawen. Tidak jarang mereka melakukan hal-hal yang negatif yang mengakibatkan berhentinya kegiatan belajar-mengajar. Sebagai seorang ulama yang telah digembleng jiwanya bertahun-tahun di berbagai pesantren, Simbah Chudlori tetap tegar dalam menghadapi dan menangani segala hambatan dan tantangan yang datang.

Berkat ketegaran dan keuletan Simbah Chudlori dalam upayanya mewujudkan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam baik secara dhohir maupun batin, santri yang pada awal berdirinya hanya berjumlah delapan orang, tiga tahun kemudian sudah mencapai sekitar 100-an. Prestasi ini jika diidentikan dengan prestasi para pendiri pondok pesantren dalam era kemajuan ini, barang kali biasa-biasa saja. Akan tetapi kalau melihat situasi serta kondisi serta sistem sosial yang berlaku pada saat itu sungguh prestasi Simbah Chudlori merupakan prestasi yang lebih.

Aksi negatif masyarakat setelah tiga tahun berdirinya pesantren API semakin mereda, bahkan diantara mereka yang semula antipati ada yang berbalik total menjadi simpati dan ikhlas menjadi pendukung setia dengan mengorbankan segala dana dan daya yang ada demi suksesnya perjuangan Simbah Chudhori. Akan tetapi di luar dugaan dan perhitungan pada awal tahun 1948 secara mendadak API diserbu Belanda. Gedung atau fisik API yang sudah ada pada waktu itu diporak porandakan. Sejumlah 36 kitab termasuk Kitab milik Simbah Chudhori dibakar hangus, sementara santri-santri termasuk Simbah Chudhori mengungsi kesuatu desa yang bernama Tejo kecamatan Candimulyo. Kegiatan tafhim wa-taalum nyaris terhenti.

Pada penghujung tahun 1949 dimana situasi nampak aman Simbah Chudhori kembali mengadakan kegiatan tafhim wa-taalum kepada masyarakat sekitar dan santripun mulai berdatangan terutama yang telah mendengar informasi bahwa situasi di Tegalrejo sudah normal kembali, sehingga Simbah Chudhori mulai mendirikan kembali pesantren di tempat semula. Semenjak itulah API berkembang pesat seakan bebas dari hambatan, sehingga mulai tahun 1977 jumlah santri sudah mencapai sekitar 1500-an. Inilah puncak prestasi Simbah Chudhori di dalam membawa API ke permukaan umat.

Hingga 2015 Pesantren Salaf API Tegalrejo jumlah santrinya, 4,487 orang santri putra, 2.500 santri putri. Sedangkan di Pondok Pesantren Modern yang sambil sekolah di SMP, SMA, SMK berjumlah 1.300 orang santri putra-putri.

 

Kasus TB di Pesantren

Secara umum gambaran Ponpes Salaf putra yang menampung 4.487 orang santri, menempati sekitar lima gedung dan masing-masing bertingkat tiga. Satu kamar ukuran kurang lebih 9 meter persegi dihuni 25 hingga 30 orang santri. Memiliki satu mushala, dan satu gedung bertingkat tiga untuk pembelajaran. Jumlah WC 125, toilet untuk kencing 32 unit, sedangkan tempat mandi adalah dua kolam besar seukuran kolam renang.

Dari keseluruhan jumlah santri yang ada, setiap bulannya yang menderita sakit sekitar 519 orang, dengan prosentase, penyakit kulit 12,18 %, penyakit paru-paru 6,12 %, sakit perut 9,21 %, THT 4,24 %, Demam 51,04 %, lain-lain 17,11 %. Angka dan prosentase tersebut juga hampir sama untuk periode satu tahun akademik.

[mks_pullquote align=”left” width=”250″ size=”20″ bg_color=”#000000″ txt_color=”#ffffff”]Dalam sepekan sekali, pada hari Jumat, selalu dilakukan kerja bhakti dalam tradisi Pesantren biasa disebut ro’an. Siapapun entah itu pengurus atau santri tanpa kecuali gugur gunung membersihkan lingkungan Pondok. Namun sayangnya setelah di bersihkan itu tak diimbangi dengan kesadaran dalam membuang sampah pada tempatnya dan selalu menjaga kebersihan harian.[/mks_pullquote]Dalam pemantauan kesehatan pesantren, Ponpes API sudah memiliki gedung pos kesehatan pesantren (poskestren) sendiri. Ada 6 petugas dari santri sedangkan tenaga mediknya dari dokter Puskesmas Tegalrejo. Untuk praktek dokter hanya Senin dan Jumat, pernah dicoba praktik dokter tiap hari, tapi tiap harinya tak selalu ada santri yang berobat ke poskestren sehingga efektif untuk praktek dokter di poskestren hanya sepekan dua kali.

Poskestren juga memiliki mobil ambulan, jika memang ada santri yang mengalami sakit dan masuk kategori darurat langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Tidar Kota Magelang yang jarak tempuhnya hanya sekitar 8 Km. Setiap bulannya petugas poskestren melaporkan perkembangan kesehatan santri kepada pengasuh dan juga tenaga medik di kawasan setempat.

Poskestren juga memiliki 21 tempat tidur untuk perawatan, digunakan para santri yang sakit untuk istirahat dan mendapatkan pemantauan medik. Untuk memantau kesehatan para santri, kepala kamar memiliki tanggungjawab untuk mengawasi teman-temannya dan melaporkan mereka yang sakit ke petugas kesehatan.

Seringkali para santri yang sakit ini tak merasa sakit, sehingga terkadang kepala kamar atau petugas poskestren turun langsung untuk merayu bahkan memaksa santri untuk berobat. Kesadaran untuk memeriksakan kesehatan para santri ini masih minim, ini juga menjadi perhatian pengasuh agar nantinya mereka yang sakit bisa langsung ditangani sesuai dengan diagnosanya.

Untuk kasus TB yang mudah menular ini, pihak Pemerintah dan Pesantren sudah melakukan sosialisasi tentang bahanya penyakit ini. Tingkat hunian yang padat dan pola tidur yang hanya beralaskan tikar dan karpet sederhana, selama ini dianggap menjadi salah satu pemicu banyaknya TB dan ISPA.

Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Wilayah Magelang juga berperan aktif dalam mengantisipasi penularan TB dan membantu untuk para penderita TB mendapatkan pengobatan yang layak. Meski pengobatannya gratis, tapi kesadaran para santri yang positif TB masih rendah sehingga butuh sinergi untuk melakukan penyadaran secara komunal.

Pada umumnya para pengasuh pondok pesantren mungkin mengakui jika memang pola hidup bersih dan sehat (PHBS) itu belum maksimal. Pada dasarnya para santri itu lebih mengutamakan suci, padahal suci itu adalah bersih tapi jika bersih saja itu belum tentu suci. Sehingga dasar ini nantinya bisa dijadikan praktik dalam PHBS.

Dalam sepekan sekali, pada hari Jumat, selalu dilakukan kerja bhakti dalam tradisi Pesantren biasa disebut ro’an. Siapapun entah itu pengurus atau santri tanpa kecuali gugur gunung membersihkan lingkungan Pondok. Namun sayangnya setelah di bersihkan itu tak diimbangi dengan kesadaran dalam membuang sampah pada tempatnya dan selalu menjaga kebersihan harian.

Apa yang dijelaskan di atas merupakan gambaran tentang Pondok Pesantren Salaf dalam perspektif kesehatan. API Tegalrejo merupakan salah satu dari Pesantren Salaf yang tersebar di Jateng, kurang lebih 3.719. Mempertahankan tradisi dan kultur sudah berjalan abad 15 hingga abad 21 keklasikan dan keunikan pesantren tetap lestari.

Tentu kondisi sekarang jauh lebih mapan dan layak jika dibanding empat abad lalu, Sekarang ini Pesantren sebagian sudah memiliki Poskestren dan mendapatkan kemudahan mengakses layanan kesehatan di daerah masing-masing.

 

 

* Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

* Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang (https://twitter.com/yusuf_ch)

 

Tulisan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Tuberculosis (TB) Paru Di Lingkungan Pondok Pesantren dengan tema “Temukan, Obati dan Lindungi Warga Pondok Pesantren dari penularan TB Baru” di gedung Bappeda Jateng (19/3/2015).

 

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Trackbacks/Pingbacks

  1. Gus Yus: Fisik Santri Lemah, Unggul Jiwa | RMI NU Jateng - […] Pada pertemuan dengan format dialog interaktif ini menghadirkan Dinas Kesehatan Jateng dengan menyampaikan “Kebijakan Penanggulangan TB dan Penyehatan Lingkungan”,…

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: