Al-Istiqomah: Pesantren Jawa Terasa Di sini

KEBUMEN| Salah satu pondok pesantren yang hangat dibicarakan masyarakat Kebumen adalah Al-Istiqomah yang berada di desa Tanjungsari, Petanahan, Kebumen. Pesantren yang juga memiliki unit pendidikan madrasah tsanawiyyah (Mts) dan aliyah (MA) ini makin diminati masyarakat Kebumen. Jika merujuk pada data Education Management Information System (EMIS) Oktober 2014 lalu, jumlah santri yang dimiliki sejumlah 508. Dalam perjalanannya, pesantren ini tergolong pesat. Pada 2011 lalu, jumlah santri masih sekitar 80-an. Hal ini tentu tidak terlepas dari pengelolaan dan perjuangan baik yang dilalui pesantren.

Amin Rasyid, B.A selaku pengasuh mengakui penuh kesabaran dan perjuangan hingga hari ini. “Berdo’a itu tidak mesti langsung diijabahi, seperti perjalanan pondok pesantren ini yang 13 tahun saya berjuang berdo’a. Waktu itu saya mempunyai keinginan untuk memiliki tanah sebagai lokasi pengembangan pesantren.

Saya menanti, dan seusai berdoa di Multazam, Mekkah. Saya mendapat kabar bahwa tanah di sekitar pesantren sudah ditawarkan. Maka, tanpa berfikir panjang langsung saya komunikasikan untuk dibeli,” ungkap Kiai Amin. Wal hasil dengan adanya tambahan lokasi tanah, kemudian dibangunlah lembaga pendidikan MA dan Mts yang kemudian hari ini tidak ada anak desa yang sekolah di luar Kebumen. Bahkan hampir seluruh kecamatan di Kebumen ada santri minimal 5 orang. Ini satu bukti bahwa pesantren Al-Istiqomah sudah dikenal di Kebumen.

Pesantren ini memadukan berbagai model pembelajaran yang ada di pesantren Jawa yang diambil dari kultur pesantren Banten-Banyuwangi yang cocok untuk diterapkan di pesantren ini. Hal ini berdasar dari pengalaman beliau dan keluarga ketika menjadi santri disebarluaskan di penjuru tanah Jawa. Beliau pun tidak malu untuk berbagi ide dengan putra dan pengasuh di pesantren lain karena sesuai prinsip beliau, “Malu bertanya sesat di jalan karena pintu ilmu adalah dengan bertanya”.

Saat kontributor rmi-jateng mengunjungi kamar pengurus masih sangat sederhana. Anifudin selaku lurah (ketua) pondok menimpali perihal kamar tersebut, “Hehe, iya supaya kita tetap menjadi pribadi yang sederhana, seperti kekhasan pribadi yang dimiliki penduduk Jawa,” ungkap Anif. (Muchsin Rivangi/Zulfa)

 

Author: Kares Kedu

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: