Menyemai Benih Semangat Kiai Sahal

Oleh: Mukhamad Zulfa*
[mks_dropcap style=”letter” size=”100″ bg_color=”#ffffff” txt_color=”#000000″]K[/mks_dropcap]iai Sahal meninggal pada 24 Januari 2014, sudah satu tahun kita kehilangan sosok guru bangsa. Peringatan haul pertama kali ini diadakan pada 14 Januari bertepatan dengan 22 Rabiul Awwal dengan acara puncak rangkaian tahlil akbar dan khotmil qur’an.

Kiai Sahal terkenal sebagai pencetus fikih sosial. Keilmuan dan pemikiran inilah yang membawa beliau mendapatkan gelar doktor Honoris Causa (HC) pada tahun 2003 dalam bidang fikih dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Frame

Frame DR. KH. MA. Sahal Mahfudh, (facebook.com)

Diantara perjuangan Kiai Sahal dalam mendengungkan fikih sosialnya terkait pendayagunaan zakat untuk pemecahan problem kemiskinan dan  kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Kedua, pelestarian lingkungan hidup yang harus dijaga. Ketiga, relokasi prostitusi. Keempat, sikap mendorong persaudaraan islam (ukhwah islamiyyah) terhadap perbedaan di kalangan umat Islam, seperti organisasi sosial kemasyarakatan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyyah dan yang lainnya.

Pemikiran ini terlahir dari kampung halaman tempat beliau tinggal di Kajen Pati, karena ingin mengentaskan kemiskinan dengan ilmu yang dimilikinya yaitu fikih.

Dengan spesialisasi keilmuan inilah beliau memantapkan diri untuk menjadi aktivis organisatoris misal Nahdlatul Ulama (NU), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Lembaga Studi Pembangunan (LSP) dan lainnya.

Perjuangan ini tidak terhenti dalam bidang agama dan kemasyarakatan, hal ini ditambah dalam bidang ekonomi seperti pendirian Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Artha Huda Abadi, bisnis percetakan, dealer masda motor dan usaha yang lainnya.

Dalam berorganisasi, karir Kiai Sahal dimulai dari tingkat paling bawah yaitu kecamatan hingga internasional. Tentu fondasi utama yang tidak dapat ditinggalkan adalah pesantren Maslakul Huda dan Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) yang beliau asuh. Ketika menjadi pemimpin PIM terdapat banyak inovasi dan kreasi yang beliau pelopori. Dengan menggunakan manajemen modern PIM mulai merintis berdirinya madrasah Aliyah, kalender hijriyyah sebagai kalender akademik hingga pendirian Sekolah Tinggi Mathali’ul Falah (STAIMAFA) pada tahun 2008.

Nama PIM digunakan mulai tahun 1960 memiliki arti spirit dinamisme dan progresivisme yang ada dalam perguruan Islam. Sebelumnya masih menggunakan madrasah, harapannya dengan nama yang baru ini Mathaliul Falah maju dan berwawasan luas ke depan dalam mempersiapkan kader umat dan bangsa yang mendalam ilmu agamanya (tafaaqquh fiddin), professional (sholih) dan menjunjung tinggi aspek ketuhanan.

Dalam mengelola PIM Kiai Sahal tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam mendidik santrinya. Beliau lebih mengedepankan bagaimana mengingatkan santrinya menggunakan isyarat tanpa harus menyakiti santri secara fisik. Namun, metode ini ternyata lebih efektif untuk mengingatkan santri dibandingkan harus memukul secara fisik.

 

Belajar Dari Kiai Sahal  

Tetapi Sahal adalah Sahal, sekali prinsip dipegang, ia akan mempertahankanya dengan teguh. Sahal tak bergeming dan terus berjalan dengan ide-ide besarnya. Hasilnya memang sangat luar biasa. Dengan kemampuan manajemen keorganisasian yang dipelajarinya, Sahal kemudian mampu memegang berbagai peranan penting dalam organisasi, khususnya NU. (Kiai Sahal Sebuah Biografi: 2012)

Kiai Sahal belajar berorganisasi ketika menuntut ilmu di pesantren Kediri, khususnya ilmu ketatanegaraan dan keadministrasian. Yang pada waktu itu masih dianggap tabu untuk dipelajari.

[mks_pullquote align=”left” width=”300″ size=”24″ bg_color=”#000000″ txt_color=”#ffffff”]”Tetapi Sahal adalah Sahal, sekali prinsip dipegang, ia akan mempertahankanya dengan teguh. Sahal tak bergeming dan terus berjalan dengan ide-ide besarnya.”(Kiai Sahal Sebuah Biografi: 2012)[/mks_pullquote]

Perjuangan tak kenal lelah dan kekonsistenan Kiai Sahal menunjukkan kualitas yang baik dalam mengelola NU. Sebagai rois amm syuriyah PBNU memegang teguh khittah 1926. Beliau secara tegas menolak turut campur dalam dunia perpolitikan. Kita bisa mengikutinya dalam kasus Gus Dur dan Hasyim Muzadi.

Dengan piawai pula NU dengan fleksibel mampu memposisikan diri dengan baik ketika salah satu kadernya menjadi presiden ataupun ketika menjadi calon wakil presiden. Selama 15 tahun memimpin NU Kiai Sahal tidak pernah berhenti mengingatkan kepada anggota jam’iyyah dan jama’ahnya akan pentingnya khittah 1926. Ini menjadi tulang punggung NU untuk bergerak agar bisa dinamis sepanjang zaman.

Tidak hanya piawai dalam berorganisasi beliau setidaknya memiliki sepuluh kitab yang telah dikarang oleh Kiai Sahal, salah satunya adalah Thariqatal-Hushul ila Ghayahal-Ushul, kitab ini bernafaskan ilmu Ushul Fiqh. Bahkan dipakai di pesantren Sarang, Kediri dan Lirboyo.

Selain itu juga dipakai di madrasah-madrasah sebagai bahan ajar di Tarim, Yaman. Belum karya lain yang diterbitkan oleh LKiS, Pustaka Ciganjur, Thoha Putra, Pustaka Firdaus dan penerbit lain, serta makalah yang tidak dipublikasikan, masih banyak lagi.

Terakhir, beliau juga mendapatkan penghargaan Tokoh Perdamaian Dunia (1984), Manggala Kencana Kelas I (1985-1986), Bintang Mahaputra Utama (2000) dan Tokoh Pemersatu Bangsa (2002). Selain itu kita juga bisa melihat karya tulis, buku dan kitab yang telah beliau sumbangkan dalam dunia pemikiran Islam. Dari sekian banyak kontribusinya inilah kita bisa meneladani semangat yang telah dikobarkan oleh Kiai Sahal. Semoga.

 

* Aktivis muda NU masih belajar di UIN Walisongo Semarang.

Sumber: Koran Wawasan edisi Sabtu Pon, 24 Januari 2015.

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: