Takmir Masjid Diminta Melibatkan Remaja

30 Desember 2014 2:30 WIB
SEMARANG – Plt Ketua Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Ali Mufiz menuturkan, keaktifan takmir saat didaulat menggawangi masjid sangat penting. Karena, masjid tidak akan terurus dengan baik dan profesional bila takmirnya hanya menampang nama saja.

Penegasan mantan Gubernur Jawa Tengah itu disampaikan saat menjadi pembicara Penataran Takmir Masjid Angkatan ke-2 yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Semarang di Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman Jalan Aloon-aloon Nomor 11, kemarin.

‘’Jangan lupa ketika mengurusi masjid juga dijawil remajanya. Jika mereka tidak diikutsertakan untuk nyengkuyung bareng kegiatan masjid atau tidak pernah dikasih peran, maka lama kelamaan masjid akan tidak menarik lagi bagi mereka,’’ ujar Ali Mufiz di depan 80 peserta penataran.

Sementara itu, KH Hanif Ismail Lc dalam paparannya menekankan, masjid adalah tempatnya persatuan di samping berfungsi sebagai tempat memelihara dan meningkatkan keimanan, iktikaf, dzikir, dakwah, menyebarkan ilmu, menghimpun zakat, serta musyawarah.

Pemersatu Umat

‘’Bila kita menginginkan masjid menjadi pemersatu umat, takmir masjidnyalah yang harus bersatu membangun masjid agar optimal dari segi idaroh (terkait dengan perkantoran atau administrasi) imaroh (bentuk-bentuk kegiatan) serta fungsi ri’ayah (pemeliharaan) masjid,’’ tuturnya.

Ketua Pengurus Daerah DMI Kota Semarang, Ali Mansyur menjelaskan, takmir masjid adalah jabatan yang menarik. Bagaimana tidak? Sebab, ada dua potensi hijrah yang bisa ditemukan bila semangat mengurus masjid. Yang pertama hijrah makani.

Pengurus takmir dan jamaah semangat berbondong-bondong jamaah ke masjid sehingga dari masjid tersebut akan melahirkan kemakmuran untuk jamaah. ‘’Kedua hijrah maknawi, yang berarti, tumbuhnya spirit keimanan, keislaman dan ihsan dalam pribadi jamaah yang berasal  dari keaktifan ikut memakmurkan masjid hingga kemudian juga melahirkan kemakmuran atau kebahagiaan dunia akhirat sebagaimana janji Allah,’’ katanya. (H84-87)

Sumber: berita[dot]suaramerdeka[dot]com/

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: