Mengenang KH. Sahal Mahfudh (1)

Kisah Kiai Sahal dan Gus Dur
Oleh: Munawir Aziz*

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur, 7 September 1940-30 Desember 2009) dan KH. Sahal Mahfudh (16 Februari 1933**/17 Desember 1937-24 Januari 2014) merupakan tokoh besar dari pesantren, yang menjadi inspirasi negeri ini. Keduanya tidak hanya faqih dalam bidang keagamaan, namun juga menguasai pemikiran modern serta mampu mendialogkan turats wa tajdid dalam satu tarikan nafas. Gus Dur dikenal piawai dalam penguasaan teks-teks klasik, sekaligus jagoan dalam memetakan ilmu sosial sekaligus gerakan transformatif. Kiai Sahal menjadi begawan dalam ilmu ushul, sekaligus mengaktualisasikan dalam gerakan pemberdayaan masyarakat. Gagasan ‘Fiqh Sosial’ merupakan buah dari renungan Kiai Sahal, untuk menjadikan hukum Islam, bukan sebagai teks yang statis, namun sebagai cara pikir (manhaj).
Gus Dur dan Kiai Sahal dipertemukan dalam jaringan nasab dengan Syekh Mutamakkin, seorang waliyullah yang menyebarkan Islam di pesisir Pati, tepatnya di desa Kajen. Kisah tentang Syekh Mutamakkin, disebutkan dalam serat Cebolek, yang terkenal dalam jagad literasi Jawa. Dari Syekh Mutamakkin inilah, kemudian lahir keturunan yang merupakan ahli ilmu dan pengasuh pesantren, yakni dari Mbah Hendrokusumo, Mbah Alfiyyah, dan Raden Bagus. Mbah Hendrokusumo, melahirkan keturunan yang saat ini menjadi pengasuh pesantren Kajen kawasan Kulon Banon. KH. Abdullah Zeyn bin Salam (Mbah Dullah) dan Kiai Sahal Mahfudh, termasuk dalam jaringan ulama ini.
Sedangkan, Mbah Alfiyyah menurunkan kiai-kiai pengasuh pesantren Wetan Banon. Pesantren Wetan Banon, di antaranya pesantren Salafiyyah, yang digawangi keluarga besar Mbah Sirodj dan kiai lainnya. Keturunan Syekh Mutamakkin yang bernama Raden Bagus, yang kemudian menjadi referensi silsilah ulama pengasuh pesantren di Jawa Timur. Dari Raden Bagus inilah, Gus Dur nyambung sebagai keturunan Syekh Mutamakkin.
“Saya selalu memanggil Durrahman. Karena ibu kandung saya adalah adik kandung ibunya Durrahman,” ungkap Nyai Hj. Nafisah Sahal. Selain itu, ayah kandung Kiai Sahal, Mbah Mahfudh bin Salam, adalah sepupu KH. Bisri Syansuri, kakek Gus Dur. Mbah Bisri (KH. Bisri Syansuri) menikah dengan Ny. Hj. Chodidjah, adik pendiri NU KH. Wahab Chasbullah. Pasangan ini melahirkan enam anak, yakni KH. Ahmad Bisri, Hj. Muassomah (nenek Cak Imin, Muhaimin Iskandar), Hj. Sholihah (ibu kandung Gus Dur), Hj. Musyarofah (ibu kandung Ny. Nafisah Sahal), KH. Abdul Aziz Bisri dan KH. Shohib Bisri. Dari jalur silsilah ini, betapa dekat hubungan darah Gus Dur dengan keluarga KH. Sahal Mahfudh.
Tepat tiga hari setelah menjadi presiden, Gus Dur langsung sowan ke Syekh Mutamakkin.
“Saya titip pesan, masyarakat Pati tidak perlu ramai-ramai. Persatuan dan kesatuan lebih penting. Kalau benar masyarakat Pati cinta Mbah Mutamakkin, Insya Allah adil dan makmur akan segera terwujud,” ungkapnya.
Syekh Mutamakkin menjadi tokoh pertama yang diziarahi Gus Dur, sebelum menziarahi kakeknya, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng, Jombang. Setelah berziarah ke Syekh Mutamakkin, Gus Dur sowan ke Mbah Sahal Mahfudh dan Kiai Abdullah Salam al-hafidz (Mbah Dullah Salam—begitu santri-santri di Pati menyebutnya).
Gus Dur memasuki ndalem Mbah Dullah lewat dapur, yang menerobos dari rumah Kiai Sahal lewat gang-gang sempit di antara pemukiman warga. Di hadapan Mbah Dullah, Gus Dur langsung mencium tangan kiai kharismatik ini, dan duduk bersimpuh di hadapannya. Dari penuturan beberapa kiai Kajen, Mbah Dullah merupakan salah satu kiai yang menjadi referensi Gus Dur, dalam persoalan-persoalan penting.
Bahkan, suatu ketika, Gus Dur matur ke Mbah Dullah, bahwa ada seseorang yang akan mengobatkan mata Gus Dur yang sedang sakit. Seseorang tersebut adalah pengusaha Tionghoa yang kaya raya, dengan jaringan bisnis kretek di negeri ini. Mbah Dullah tidak kersa (tidak memberi izin), karena menurut Mbah Dullah, dengan sakitnya mata, Gus Dur sudah mendapat anugrah dari Allah yang luar biasa besar, yakni dihindarkan dari dosa-dosa akan melihat kema’siatan dunia. Dalam beberapa urusan mendesak lainnya tentang negara, NU dan Islam, Gus Dur juga sering meminta dawuh dari Mbah Dullah.
Mbah Dullah juga menjadi guru dan pendidik Kiai Sahal, ketika masih kecil. Mbah Dullah menggantikan peran ayahanda Kiai Sahal, Mbah Mahfudh yang meninggal ketika dalam tahanan kolonial Belanda. Mbah Mahfudh bin Salam, wafat di penjara Ambarawa, Jawa Tengah. Peran sebagai pelindung, pengasuh dan pembimbing, inilah yang menuntun jalan Kiai Sahal, dalam ketekunan mengaji dan memberdayakan masyarakat.
Dengan demikian, Kiai Sahal dan Gus Dur dipertemukan dalam guru spiritual yang sama, yakni Mbah Abdullah Zeyn Salam.
***
Pada Muktamar ke-31 Nahdlatul Ulama di Asrama Haji Donohudan, Solo, tahun 2004, paman dan keponakan itu seolah bersaing untuk menjadi Rais ‘Am PBNU. Akhirnya Sang Paman, Kiai Sahal, yang ditunjuk menjadi pimpinan tertinggi PBNU.
Kiai Sahal memanggil Gus Dur dengan sebutan ‘Durrahman’. Mengenai kecerdasan Gus Dur, Kiai Sahal mengungkapkan: “Durrahman itu bukan tokoh kontroversial seperti yang ditulis di koran. Tetapi, dia memang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata kebanyakan orang dan selalu berpikir lebih maju dari kita,” ungkap Kiai Sahal.
Gus Dur dan Kiai Sahal tidak hanya dekat dari sisi keturunan. Akan tetapi, juga semangat pergerakan. Gus Dur, menjadi ikon generasi muda pesantren untuk tidak hanya menjaga ‘tradisi’, namun juga selalu mencari terobosan untuk pengembangan masyarakat. Hal ini, sesuai dengan matra pesantren, ‘al-muhafadzatu ‘ala al-qadimi as-shalih, wal akhdzu bil jadidi al-ashlah’. Bersama Gus Dur, Kiai Sahal pernah menjadi bagian dari Proyek Pengembangan Masyarakat dari LP3ES. Ada 3 agenda dalam proyek ini. Pertama, pelestarian lingkungan terkait pencemaran limbah dari pabrik tepung tapioka. Kedua, memperkenalkan teknologi terapan bagi penduduk desa, yaitu tungku yang dapat menghemat energi dan biaya. Ketiga, Kiai Sahal merintis perkembangan organisasi ekonomi mandiri dari kalangan masyarakat pedesaaan.
***
Gus Dur juga memiliki hubungan kerabat yang dekat dengan istri Kiai Sahal, Ny. Hj. Nafisah. “Sekitar tahun 1962-1964, saya belajar bahasa Inggris pada mas Dur,” ungkap nyai Nafisah. Menurutnya, Gus Dur tidak hanya piawai bahasa Inggris dan Arab, namun juga bahasa Prancis, Belanda dan Mandarin.
Nyai Nafisah juga menjadi teman karib dari istri Gus Dur, Nyai Sinta Nuriyah. Sejak ibtidaiyyah, Muallimat Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang hingga Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, keduanya sering bersama.
Nyai Nafisah Sahal, yang merupakan putri KH. Abdul Fatah Hasyim, sering melihat Gus Dur main catur dengan ayahnya. “Di sela-sela kesibukan ngaji di pondok, Gus Dur menantang gurunya bermain skak,” ungkapnya.
Wallahu a’lamu bisshawab.
***
Kajen, 23 Desember 2014.

—disarikan dari wawancara dengan beberapa kyai, gus dan sumber berita di media darling.
*Munawir Aziz, editor buku ‘Epistemologi Fiqh Sosial: Konsep Hukum Islam dan Pemberdayaan Sosial (2014), santri dan peneliti, pengagum Gus Dur dan Kiai Sahal. Tulisan ini, masih merupakan draft, untuk itu, saran dan tambahan data sangat saya nantikan, di email: moena.aziz@gmail.com
**menurut neng Tutik Nurul Jannah, dokumen terbaru yang ditemukan keluarga, tanggal lahir Kiai Sahal Mahfudh, yang sudah diverifikasi adalah 16 Februari 1933.

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

1 Comment

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: