NU dan Kebudayaan

Oleh: Zudi Setiawan*

[mks_dropcap style=”rounded” size=”45″ bg_color=”#81d742″ txt_color=”#ffffff”]N[/mks_dropcap]ahdlatul Ulama (NU) termasuk organisasi yang memiliki perhatian besar terhadap kebudayaan, baik dari segi penggalian, penciptaan maupun pelestariannya. NU juga dikenal sebagai organisasi yang memiliki paradigma moderat dan terbuka (inklusif) terhadap keberadaan kebudayaan lokal di tanah air.

Hal ini dapat dilihat pada aspek pelaksanaan tradisi ritual keagamaan yang dijalani oleh warga  NU  yang  ternyata  memiliki  kaitan erat dengan tradisi-tradisi keagamaan pada masa lampau. Salah satu contohnya dalam hal ini adalah  upacara  peringatan  terhadap  hari  setelah  meninggalnya  seseorang  dengan  menggunakan  hitungan  tertentu dan di dalamnya diisi dengan acara kirim doa dengan membaca ayat-ayat Alquran dan tahlil. Hitungan hari tersebut misalnya yaitu pada hari ketiga (Nelung Dino), hari ketujuh (Mitung Dino), hari keempat puluh (Metang Puluh Dino), hari keseratus (Nyatus), hari keseribu  (Nyewu),  serta  setiap  setahun  (Haul). Upacara tersebut merupakan hasil dari pribumisasi Islam. Sikap NU yang moderat dan terbuka terhadap tradisi lama ini sebenarnya diwarisi dari Walisongo.

Pagelaran wayang merupakan salah satu dakwah yang digencarkan oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam.

Pagelaran wayang merupakan salah satu dakwah yang digencarkan oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam.

KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) yang pada saat ini menjabat sebagai Wakil Rais Am PBNU memiliki pandangan bahwa keberadaan adat atau budaya lama termasuk  budaya  yang  berasal  dari  agama  lain  tidak harus  dihilangkan  semua  oleh  umat  Islam.  Gus  Mus menyatakan bahwa sepanjang adat atau budaya (lama) tidak  menyalahi syara’ tidak  apa-apa  untuk  dipertahankan. Gus Mus mendasarkan argumentasinya dengan mencontohkan  pada  zaman  Nabi  Muhammad  SAW ada  hal-hal  (budaya)  yang  lama,  dimana  oleh  Nabi Muhammad SAW kemudian disempurnakan, ada pula yang dihapuskan, dan ada yang dibiarkan begitu saja. Contoh yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW inilah yang kemudian dijadikan pegangan bagi kalangan  tradisional  (NU)  dalam  menyikapi  setiap  tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.

Perhatian NU secara organisasi terhadap masalah kebudayaan  dapat  kita  baca  dalam  garis  perjuangan NU yang dihasilkan pada Muktamar Ke-19 NU tahun 1952 di Palembang. Dalam garis perjuangan NU tersebut  disebutkan  bahwa  bagi  NU,  kebudayaan  menunjuk pada upaya mempertinggi moral dan akhlak serta membawa  kemajuan  kehidupan  rohani  masyarakat. NU menghargai dan membantu kehidupan kebudayaan yang  nyata  di  dalam  tiap-tiap  golongan  rakyat  serta turut  bergiat  mengusahakannya  selama  kebudayaan itu tidak merusak kerohanian masyarakat umum. NU juga berkehendak memperbanyak pembacaan dan perpustakaan rakyat serta pengetahuan kebudayaan yang mempertinggi moral dan akhlak serta hiburan-hiburan yang sesuai dengan keadaan dan zaman yang membawa kemajuan kehidupan rohani masyarakat (Choirotun Chisaan, 2008: 131).

[mks_pullquote align=”right” width=”250″ size=”20″ bg_color=”#000000″ txt_color=”#ffffff”]“Dari sinilah dapat dipahami bahwa NU sangat dekat dengan budaya dan menggunakan kebudayaan sebagai media dakwah Islam yang terbukti efektif di Indonesia.[/mks_pullquote] Prinsip ahlussunnah  wal  jama’ah yang  dianut NU dalam mengembangkan kebudayaan dan peradaban umat manusia didasari sikap yang berimbang dan menjaga  kesinambungan  antara  yang  sudah  ada  dan mengambil hal yang baru. Budaya lama yang masih relevan  terus  dijaga  dan  dilestarikan,  sementara  budaya baru diterima setelah dilakukan penyaringan dan penyesuaian.  Hal  ini  sesuai  dengan  prinsip  NU, almuhafadhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah“mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik” yang dapat juga diartikan menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang (masa depan).  Terhadap  peradaban  dan  kebudayaan  modern yang datang dari Barat, pada dasarnya NU memandang sebagai hasil inovasi dan kreativitas manusia atas dasar rasionalisme dalam menjawab tantangan yang dihadapi dalam bentuk nilai-nilai, ilmu pengetahuan dan teknologi (LBM PBNU, 2007: 667).

Dalam menanggapi maraknya klaim kebudayaan Indonesia  oleh  negara  lain,  NU  menyatakan  sikapnya yang dituangkan dalam salah satu keputusan Muktamar Ke-31 NU di Boyolali, Solo tahun 2004 tentang Taushiyah  Muktamar  bidang  Politik  Internasional.  Dalam salah  satu  butir  taushiyah  tersebut  dinyatakan  bahwa NU menolak segala bentuk pengambilalihan aset strategis negara baik sektor ekonomi atau sektor pendidikan dan  kebudayaan  oleh  pihak  asing  dengan  alasan  apa pun. Bagi NU, klaim kebudayaan Indonesia oleh negara lain adalah bentuk tindakan yang melanggar kedaulatan negara Indonesia di bidang kebudayaan dan menghina martabat  rakyat  Indonesia  secara  keseluruhan  sebagai sebuah bangsa.

Tradisi-tradisi ibadah yang dijalankan dan dikembangkan oleh NU apabila dianalisis lebih jauh, ternyata memiliki nilai-nilai positif yang bermanfaat bagi manusia yang menjalankannya. Misalnya, NU menjalankan dan mengembangkan tradisi ibadah berupa khataman dan semaan Alquran 30 juz, pembacaan surat Yasin dan kitab Tahlil, pembacaan kitab Barzanji dan Diba’ yang berisi syair tentang sejarah hidup Nabi Muhammad SAW, pembacaan manakib (riwayat hidup) tokoh-tokoh Islam yang dikenal sebagai wali, pembacaan Shalawat Nariyah dan berbagai macam shalawat lainnya. Semua itu mendidik umat Islam untuk gemar membaca, belajar, dan berdoa.

Kemudian, ada pula tradisi ziarah kubur, baik ke makam  leluhur  maupun  ke  makam  para  tokoh  Islam, telah mengajarkan kepada umat Islam untuk selalu terhubung dengan leluhurnya dan para tokoh yang berjasa dalam  pengembangan  agama  Islam.  Sehingga,  hal  ini sangat  bermanfaat  sebagai  media  penyambung  antara orang yang masih hidup dengan yang telah meninggal. Apabila dilihat dari sisi kesejarahan, tradisi ziarah kubur sangat bermanfaat dalam menghubungkan setiap periode masa sejarah yang telah terlewati yang ditandai dengan keberadaan  makam-makam  para  tokoh  Islam.  Tidak mengherankan, mayoritas warga NU dapat mengetahui secara pasti tentang keberadaan makam para pendiri dan tokoh  NU  yang  telah  meninggal,  bahkan  termasuk  riwayat semasa hidupnya. Hal ini akan sulit ditemukan di kalangan umat Islam non-NU.

Ada satu contoh lagi tradisi ibadah NU yang memiliki manfaat besar, yaitu acara Selamatan dan Syukuran yang biasanya diisi dengan acara doa bersama kemudian kepada orang–orang yang hadir diberikan makanan, minuman, dan bahkan bingkisan untuk dibawa pulang. Bingkisan ini ada yang menamakannya sebagai berkat. Dari  sini,  umat  Islam  diajarkan  untuk  gemar  berbagi, bersedekah  dan  menjalin  tali  silaturahmi  dengan  para tetangganya, sehingga tertanam nilai-nilai kebersamaan dan menghapuskan sikap-sikap individualistik di tengah masyarakat.

Beberapa  tradisi  ibadah  NU  yang  telah  disebutkan  di  atas  adalah  sebagian  tradisi  ibadah  yang  telah berkembang menjadi budaya di tengah masyarakat. Namun demikian, sebenarnya masih banyak tradisi ibadah NU lainnya yang sarat dengan manfaat bagi orang-orang yang menjalankannya. Dari sinilah dapat dipahami bahwa NU sangat dekat dengan budaya dan menggunakan kebudayaan sebagai media dakwah Islam yang terbukti efektif di Indonesia. (ms)

 

*Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Wahid Hasyim Semarang

Diambil dari Tabloid Suara NU edisi I Maret 2011

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: