Semula dari Hutan Belantara

SEBELUM  menjadi kawasan dengan permukiman padat, kampus Undip, Universitas Pandanaran, Akper, dan puluhan perumahan, Tembalang merupakan hutan belantara.

Dua tokoh penyebar agama Islam di Jawa Tengah, Kyai Sirojudin dan Kiai Galang Sewu, dikenal sebagai tokoh yang melakukan babat alas Tembalang.

Saat itu, mereka melakukan perjalanan dari Demak menuju selatan bersama sejumlah muridnya. Ketika tiba di sebuah sungai yang juga berdiri pohon Gambir berukuran besar di tepi sungai itu, mereka dikejutkan oleh kedatangan rombongan pasukan yang tidak dikenalnya.

”Terjadilah peperangan kecil. Mereka saling lempar batu dan menembak dengan bambu runcing. Ketika bambu runcing dan batu ditembakkan, pasukan itu hilang. Kejadian itu terus berulang, ketika ditembak, mereka hilang dengan sendirinya. Kiai Sirojudin dan Kiai Galang Sewu pun bersepakat memberi nama kawasan itu sebagai Tembalang, yang berasal dari tembak dan ilang (hilang-red),” tutur salah satu sesepuh Tembalang, Agus Siswanto (71) warga Kampung Banjarsari 27 RT 1 RW 1.

Bapak lima anak dan tujuh cucu pensiunan PNS Dinas Kesehatan Kota Semarang membeberkan kisah berdirinya Tembalang yang dia dapat secara turun menurun dari para kakek maupun sesepuh yang terdahulu.

Sementara versi lainnya, nama Tembalang berasal dari kata tambal dan ilang. Nama ini diberikan oleh Ki Ageng Pandan Arang ketika mengadakan inspeksi ke kawasan itu. Konon pada saat mengadakan inspeksi di daerah ini, Ki Ageng bertemu dengan penduduk yang hendak menambal mata air yang terus menerus membeludak di wilayah ini, sehingga mereka mengadu kepada Ki Ageng.

”Ki Ageng Pandanaran pun kemudian shalat dua rakaat. Mata air yang membeludak itu akhirnya lenyap, dan kini hanya tersisa 1 mata air kecil di daerah ini yang bernama Tuk Songo. Itu cerita yang turun temurun, soal kebenarannya sendiri, saya tidak tahu mana yang benar,” tandasnya.

Pemekaran

Tembalang, secara administratif, terjadi pengembangan wilayah hingga tiga kali. Pada 1970-an, Tembalang merupakan salah satu desa di Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang. Setelah pemekaran wilayah pada 1980-an, menjadi salah satu kelurahan di wilayah Kecamatan Banyumanik.

”Setelah Undip secara resmi pindah ke Tembalang, Pemerintah Kota Semarang kemudian memekarkan wilayahnya dengan menambah jumlah kecamatan. Kelurahan Tembalang menjadi bagian dari Kecamatan Tembalang, sampai sekarang. Dulu, sebelum ada Undip, warga Tembalang menikahnya ya dengan tetangganya sendiri, tapi sekarang berubah. Ada yang menikah dengan warga Papua, Aceh, Kalimantan, Sumatera dan daerah lain di Indonesia,” katanya.

Lurah Tembalang, Margono menambahkan, kampus Undip yang berdiri di wilayah Kelurahan Jangli, Bulusan dan Tembalang itu membawa dampak ekonomi dan budaya bagi masyarakat. Hampir mayoritas warga Tembalang menggantungkan hidupnya dari usaha kos-kosan, warung makan dan foto copy.

”Jumlah warga Tembalang saja hanya 5.386, tetapi yang tinggal di Tembalang baik itu kos maupun mengontrak ada sekitar 15 ribu orang. Jumlah kos-kosan saja ada 500-an lebih. Luas lahan Tembalang yang digunakan untuk kampus Undip sendiri mencapai 186 hektare, dan sesuai PP nomor 50 tahun 1990, luas Tembalang sekarang ini tinggal 270 hektare,” paparnya. (72)

 

Sumber: berita[dot]suaramerdeka[dot]com/

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: