PBNU Gembleng Kader di Ponpes Lereng Merapi

SRUMBUNG, suaramerdeka.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggembleng kader-kader muda NU di pondok pesantren di lereng Gunung Merapi Kabupaten Magelang. Pelatihan serupa diselenggarakan Maret 2014 lalu.

Pelatihan Kader Penggerak (PKP) NU wilayah Jateng ini dipusatkan di Ponpes Nurul Falakh Tegalrandu, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Ponpes Nurul Falakh dipilih untuk kali kedua karena dinilai representatif untuk pelatihan, sarana dan prasarananya memadai juga adanya dukungan penuh pengasuh pondok yaitu KH Abdul Rozaq.

Ketua PWNU Jateng Abu Hafsin Umar memberikan sambutan saat pembukaan PKPNU angkatan I (13/02)

Ketua PWNU Jateng Abu Hafsin Umar memberikan sambutan saat pembukaan PKPNU angkatan I (13/02)

PKPNU Angkatan II ini akan dilaksanakan selama empat hari mulai tanggal 9-12 Oktober 2014. Pembukaan dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 2014 pukul 19.00 WIB oleh Wakil Ketua Umum PBNU Dr As’ad Sa’id Ali selaku penanggung jawab PKPNU.

PKPNU Angkatan II ini diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari Pengurus PWNU Jateng, PCNU di eks Karisidenan Pati dan PCNU Kabupaten Magelang, dengan instruktur Tim dari PBNU. “PKPNU bertujuan untuk membekali dan menguatkan warga NU terutama pengurus NU terhadap aqidah Islam ala Ahli Sunah Waljamaah,” kata Sekretaris Pengurus Cabang NU Kabupaten Magelang Mh Masrukhan MSi.

Menurut Masrukhan PKPNU diharapkan bisa menangkal gerakan radikalisme Islam yang akhir-akhir ini marak terjadi dan untuk lebih meneguhkan komitmen kebangsaan warga NU terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Banyak pihak yang kurang paham sejarah menggoyang keberadaan NKRI dengan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Yang lebih berbahaya mereka memecah belah atas nama jihad terhadap agama,” tegas Masrukhan.

Masrukhan menjelaskan Islam adalah agama Rahmatan Lil ‘Alamin, yang artinya Islam bisa hidup di manapun bentuk dan tradisi masyarakat. Islam datang ke suatu kaum bukan memaksa untuk melakukan segala sesuatu secara kaku. Islam dapat bersimbiosis terhadap tradisi suatu kaum meski tetap tidak keluar dari rel ajaran Islam atau tidak keluar dari aturan-aturan islam.

“Sebagai organisasi Islam dengan jamaah besar di Indonesia, NU merasa prihatin. Kami menilai perlunya memahamkan warga agar tidak mudah terseret arus pemahaman keliru tersebut. PKPNU salah satu upaya PBNU untuk membentengi radikalisme Islam,” kata dia. (MH Habib/CN34/SM Network)

 

 

Sumber: berita[dot]suaramerdeka[dot]com/

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: