Kendal Segera Miliki Pesantren Rehabilitasi Mental

KENDAL – Kabupaten Kendal segera memiliki pondok pesantren dan rehabilitasi mental bagi pecandu narkoba dan gangguan kejiwaan.

Hal itu setelah dokter Sih Ayuwatini, salah seorang dokter spesialis kejiwaan di RSUD Dr Soewondo Kendal mendirikan ponpes yang diberi nama Miftahussyfa Al Aisyah di RW 2, Kelurahan Sijeruk, Kecamatan Kota Kendal. Peletakan batu pertama pembangunan ponpes dilakukan Bupati, Minggu (7/9).

Bupati Widya Kandi Susanti mengapresiasi pembangunan pondok pesantren tersebut, karena merupakan yang pertama di Jawa Tengah ponpes yang menangani pecandu narkoba dan gangguan kejiwaan. Dia berharap dengan berdirinya ponpes tersebut, akan lebih membuat masyarakat sehat baik jiwa maupun fisiknya. Hal itu karena pecandu narkoba sering mengalami gangguan jiwa.

‘’Jika dua gangguan itu bisa ditangani secara bersamaan, tentu sangat luar biasa,’’ katanya. Dia menyatakan, di Kabupaten Kendal terdapat lima kecamatan dengan pecandu narkoba yang cukup tinggi. Lima kecamatan itu adalah Kaliwungu, Weleri, Pegandon, Sukorejo, dan Boja.

Banyak Pasien

”Para pecandu narkoba di Kendal selama ini dibawa ke Pusat Rehabilitasi Penyalahgunaan Narkoba Lido di Bogor, karena di Kendal belum memiliki balai rehabilitasi tersebut,’’ terang dia. Pendiri Ponpes dan Rehabilitasi Mental Miftahussyfa Al Aisyah, dokter Sih Ayuwatini, mengatakan, pembangunan ponpes itu berlatar belakang, banyaknya pasien gangguan jiwa yang belum tertangani.

Menurutnya, dengan adanya ponpes itu, nantinya mereka yang menjadi pecandu narkoba maupun mengalami gangguan kejiwaan bisa ditangani secara lebih agamis. ‘’Ponpes itu dibangun di atas tanah seluas 3.880 meter persegi,’’ jelas Sih Ayuwatini.

Dia mengatakan, karena ponpes, maka dari metode penyembuhan bagi pecandu narkoba dan gangguan kejiwaan menggunakan pendekatan agama. Namun, tidak menutup kemungkinan, jika pasien memang harus berobat ke dokter jiwa. Pada dasarnya, pihaknya ingin berusaha menyembuhkan pasien-pasien tersebut, baik secara medis maupun agama.

‘’Jumlah data pasien dengan sakit jiwa secara detail saya kurang tahu. Namun, mereka yang datang berobat di RSUD Dr Soewondo Kendal, setiap bulan kurang lebih sekitar 200 pasien,’’ terangnya. (H36-64)

Sumber: berita[dot]suaramerdeka[dot]com/

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: