Lagu “Hubbul Wathon Minal Iman” dikenalkan Wabup Jombang

Ketika membuka secara resmi ‘Sarasehan Nasional: Almaghfurlah KH Abd Wahab Chasbullah, perintis, pendiri dan penggerak NU: Dari Pesantren untuk Indonesia’ (3/9) ada syair kebangsaan yang dikenalkan kepada hadirin. Lagu itu merupakan gubahan Mbah Wahab untuk memompa semangat nasionalisme para generasi muda kala itu.

Syair Cinta Tanah Air (Hubbul Wathan)

Syair Cinta Tanah Air (Hubbul Wathan)

Syair kebangsaan itu merupakan gubahan KH Abdul Wahab Chasbullah atau yang biasa disapa Kiai Wahab pada tahun 1924 sebagai lagu wajib yang harus dinyanyikan dalam keadaan berdiri tegap oleh para santri.

Hal ini disampaikan Nyai Hj Mundjidah Wahab yang juga Wakil Bupati Jombang Jawa Timur saat memberikan sambutan.  Putri Kiai Wahab ini juga sangat mengapresiasi upaya panitia dan keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dengan menyelenggarakan sejumlah acara pada haul ke 43 ini.

“Kita semua tahu bahwa bagi warga NU, Kiai Wahab tidak sekedar bapak dan pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, melainkan sebagai simbol dalam banyak hal, dari tradisi intelektual, di kalangan ulama pesantren sampai lambang pemersatu,” kata Bu Mundjidah, sapaan akrabnya.

Bagi mantan anggota DPRD Jawa Timur ini, Kiai Wahab juga mendirikan, memelihara dan membesarkan NU dengan ilmunya, baru kemudian dengan harta dan tenaganya. “Oleh karena itu tidak berlebihan jika orang menyebut Kiai Wahab adalah ruh sekaligus motor penggerak NU,” katanya. Ini dibuktikan sejak NU yang hanya berwujud kelompok kecil dan tidak diperhitungkan orang, sampai menjadi partai politik dan jam’iyah Islam terbesar di Indonesia, lanjutnya.

“Tidak salah lagi, Kiai Wahab adalah pemegang andil terbesar dalam meletakkan dasar-dasar organisasi NU dalam hampir semua sektor,” terang Ketua 1 PW Muslimat NU Jawa Timur ini. Dari mulai tradisi intelektual, peletak dasar struktur syuriah dan tanfidziyah organisasi NU, jurnalistik, sampai siasat tempur di medan laga.

Bahkan untuk menggelorakan semangat bangsa bagi para santri, Kiai Wahab sempat menggubah syair kebangsaan “Hubbul Wathon” dan ini cukup efektif. Dan pada kesempatan sarasehan yang dilangsungkan di Aula Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini, Bu Mundjidah secara khusus membacakan arti syair lengkapnya sebagai berikut:

Wahai anak bangsa wahai anak bangsa, cinta tanah air itu bagian dari iman.
Cinta tanah air wahai anak bangsa, dan janganlah kalian menjadi orang yang tertinggal
Sesungguhnya kesempurnaan (cinta tanah air) itu diiringi perbuatan, tidak hanya sekedar ucapan.
Berbuatlah, akan kau dapatkan semua angan-angan dan jangan hanya bisa berucap belaka
Duniamu hanyalah tempat untuk lewat, bukan tempat untuk menetap
Maka amalkan apapun perintah Tuhan, dan jangan jadi sapi para peniup seruling
Kamu tidak tahu siapa yang mereka kendalikan, kamu juga tidak mengerti apa saja yang mereka ubah
Tak tahu di mana perjalanan mereka akan berhenti, (juga) tak jelas bagaimana semuanya ini akan mereka akhiri
Tak tahu, apakah mereka sedang menggiringmu ke tempat jagal untuk menyembelihmu
Ataukah mereka membebaskan leher kalian atau malah melanggengkan beban kalian
Wahai yang memiliki akal waras, wahai yang memiliki hati kokoh
Tetaplah kalian dengan spirit menggelora, dan jangan menjadi laksana hewan piaraan.

Sarasehan menghadirkan narasumber Abdul Mun’im DZ (PBNU), Drs H Choirul Anam (sejarawan NU) dan Prof Dr Anhar Gonggong dari UI dan merupakan rangkaian haul ke 43 tahun Kiai Wahab.

Sumber: NU Online.

Author: RMI Jateng

Rabithah al-Ma'ahid al-lslamiyyah (RMI) adalah lembaga NahdIatuI Ulama dengan basis utama pondok pesantren yang mencapai + 14.000 buah di seluruh Indonesia dengan jumlah santri rata-rata 7.000.000 jiwa. Lembaga ini lahir sejak 20 Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Ma'ahid al-lslamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Anggaran Rumah Tangga NahdIatuI Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Ma'ahid lslamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan NahdIatuI Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Di sinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk negeri. Rabithah Ma'ahid Islamiyah NahdIatuI Ulama, berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu dan pengembangan masyarakat. Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur, Pondok pesantren merupakan wadah para santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur-tajarrudi (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), i'tidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum. Setiap pesantren memiliki karakteristik tersendiri, walau unsur-unsurnya sama. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kiai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kiai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia bisa sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri dan kitab kuning) bersifat subsider, di bawah kendali kiai. Dengan unsur-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: